Situasi ini diperburuk oleh potensi capital outflow apabila kepercayaan investor global melemah, terutama ketika ketidakpastian geopolitik masih berlangsung.
Inflasi Naik, Didorong Biaya Transportasi dan Pangan
Dampak lanjutan dari lonjakan harga energi juga mulai terasa di dalam negeri. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 naik menjadi 3,34 persen YoY, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar.
Secara bulanan, inflasi mencapai 0,44 persen MoM, dengan pendorong utama berasal dari kelompok transportasi. Kenaikan harga bensin non-subsidi, tarif angkutan udara, serta biaya pelumas dan oli mesin memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi bulan tersebut.
Baca Juga:5 Mahasiswi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Ciptakan Terobosan Baru Cegah Anemia pada Ibu Hamil dan RemajaBPJS Ketenagakerjaan Banjar Tanam Pohon di RS Orthopedi Ciamis, Wujud Kepedulian terhadap Lingkungan
Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga ikut menyumbang tekanan harga, terutama dari komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan beras.
Meski demikian, inflasi inti masih berada dalam rentang target Bank Indonesia, yakni 2,76 persen YoY, menandakan tekanan harga belum sepenuhnya keluar dari kendali kebijakan moneter.
Aktivitas Industri Tertekan, PMI Masuk Zona Kontraksi
Kenaikan inflasi mulai merembet ke sektor riil, khususnya manufaktur. S&P Global melaporkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni 2026 turun ke level 46,9, menandakan kontraksi aktivitas industri.
Ini menjadi salah satu level terendah dalam setahun terakhir, sekaligus menunjukkan bahwa tekanan di sektor produksi tidak bersifat sementara.
Penurunan ini dipicu oleh melemahnya permintaan baru yang turun paling cepat dalam setahun terakhir. Banyak pelaku industri mengaitkan kondisi ini dengan turunnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga barang dan jasa.
Di sisi lain, tekanan biaya input tercatat sebagai yang tertinggi sejak 2013. Kondisi ini mendorong produsen menaikkan harga jual dengan laju tercepat dalam lebih dari satu dekade, menciptakan risiko siklus inflasi yang lebih persisten.
Harga Minyak Jadi Pusat Tekanan Ekonomi
Jika ditarik ke akar masalah, hampir seluruh tekanan ekonomi yang terjadi saat ini berhubungan dengan satu faktor utama: lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik, termasuk konflik AS–Iran.
Baca Juga:BPJS Kesehatan Gandeng KDMP Dawagung untuk Perluas Kepesertaan dan Keaktifan JKN di TasikmalayaAnyaman Bambu Tembus Pasar Ekspor! ITB dan Bappeda Jabar Petakan Potensi Desa Padakembang untuk Naik Kelas
Kenaikan harga energi tidak hanya menekan neraca perdagangan melalui impor migas, tetapi juga merembet ke inflasi, biaya produksi, hingga aktivitas industri.
