Neraca Perdagangan RI Tiba-Tiba Defisit US$1,61 Miliar, Ekonomi Indonesia Diuji Tekanan Global

neraca perdagangan RI
Ilustrasi neraca perdagangan RI. (Hasil AI/ChatGPT)
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Indonesia kembali dikejutkan oleh pembalikan tajam pada kinerja perdagangan luar negeri. Setelah sempat mencatat surplus beruntun, neraca perdagangan RI pada Mei 2026 justru jatuh ke zona defisit sebesar US$1,61 miliar. Kondisi ini menjadi sorotan karena terjadi di luar ekspektasi pasar sekaligus menandai titik balik yang jarang terjadi sejak pandemi.

Perubahan drastis ini bukan hanya soal angka. Di baliknya, terdapat rangkaian tekanan global—mulai dari lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik hingga melemahnya aktivitas industri dalam negeri—yang secara simultan menekan fondasi ekonomi Indonesia.

Dilansir Stockbit, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kinerja ekspor Indonesia pada Mei 2026 turun 5,73 persen secara tahunan, berbalik tajam dari bulan sebelumnya yang masih tumbuh kuat. Pelemahan ini terjadi di hampir seluruh sektor utama, termasuk pertanian, pertambangan, dan manufaktur.

Baca Juga:5 Mahasiswi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Ciptakan Terobosan Baru Cegah Anemia pada Ibu Hamil dan RemajaBPJS Ketenagakerjaan Banjar Tanam Pohon di RS Orthopedi Ciamis, Wujud Kepedulian terhadap Lingkungan

Di saat yang sama, impor justru meningkat signifikan sebesar 22,16 persen YoY. Lonjakan terbesar berasal dari impor migas yang meroket hingga 70,78 persen YoY, mencapai US$4,51 miliar. Kondisi ini memperlihatkan ketergantungan yang kembali meningkat pada energi impor di tengah gejolak harga minyak global.

Akibat kombinasi tersebut, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020, sekaligus menjadi defisit terdalam sejak April 2019.

Secara akumulatif, sepanjang Januari–Mei 2026, surplus neraca perdagangan juga ikut menyusut tajam menjadi US$4,03 miliar, jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$15,38 miliar.

Tekanan Global dan Kekhawatiran Arus Modal

Di tengah pelemahan eksternal tersebut, lembaga pemeringkat Fitch Ratings menyoroti risiko lanjutan terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia. Dalam pandangannya, tekanan terhadap cadangan devisa dapat menjadi faktor krusial yang memengaruhi sovereign rating Indonesia apabila terjadi penurunan yang tajam dan berkepanjangan.

Fitch juga menilai bahwa cadangan devisa Indonesia saat ini masih mampu membiayai kebutuhan eksternal sekitar 4,9 bulan pada 2026, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB yang berada di kisaran lima bulan.

Penurunan cadangan devisa sendiri tidak lepas dari upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global, termasuk kekhawatiran investor terhadap pelebaran defisit fiskal akibat kenaikan harga minyak.

0 Komentar