Meski harga minyak global kini mulai stabil di kisaran sekitar US$70 per barel, dampaknya terhadap struktur harga domestik dinilai tidak akan sepenuhnya hilang dalam waktu singkat.
Sebagian kenaikan harga diperkirakan bersifat “sticky”, artinya tidak akan turun secepat penurunan harga minyak itu sendiri. Hal ini berpotensi meninggalkan beban jangka menengah terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tekanan Ada, Tapi Ruang Stabilitas Masih Terbuka
Kombinasi defisit neraca perdagangan, inflasi yang meningkat, serta kontraksi sektor manufaktur menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan simultan dari sisi eksternal dan domestik.
Baca Juga:5 Mahasiswi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Ciptakan Terobosan Baru Cegah Anemia pada Ibu Hamil dan RemajaBPJS Ketenagakerjaan Banjar Tanam Pohon di RS Orthopedi Ciamis, Wujud Kepedulian terhadap Lingkungan
Namun, sejumlah indikator seperti inflasi inti yang masih terkendali dan stabilisasi harga minyak global memberikan ruang bagi pemulihan ke depan.
Tantangan utama ke depan bukan hanya meredam dampak jangka pendek, tetapi memastikan agar tekanan harga tidak berubah menjadi perlambatan ekonomi yang lebih panjang.
Dengan kata lain, ekonomi Indonesia saat ini berada di titik penyesuaian: antara tekanan global yang mereda perlahan dan dampak domestik yang masih tertinggal. (*)
Sumber: Stockbit
