Menurutnya, dokter berjanji akan menanggung pengobatan anaknya, bahkan kebutuhan pendidikan, kehidupan, hingga masa depannya.
Namun, Tati menilai janji tersebut tidak pernah benar-benar direalisasikan. Setelah operasi ketiga, dokter disebut semakin jarang memantau kondisi korban.
“Setelah operasi ketiga, dokter tidak pernah lagi datang menjenguk anak saya. Kalau ada obat, hanya menyuruh asisten atau sopir yang mengantar. Padahal saya berharap dokter sendiri yang datang melihat perkembangan anak saya,” tuturnya.
Baca Juga:Kadis yang Tidak Suka Basa- Basi!MAN 1 Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Pusdiklatsar Paskibra Tingkat Kabupaten Tahun 2026
Ia juga membantah anggapan bahwa keluarganya telah menerima ganti rugi dalam jumlah besar. Menurutnya, bantuan yang diterima hanya berupa uang antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu yang dikirim tidak menentu.
“Dokter menitipkan uang untuk jajan anaknya. Kadang sebulan sekali, kadang dua bulan baru transfer. Maka dari itu, tidak pernah ada biaya seperti yang orang-orang bicarakan. Seribu rupiah pun tidak pernah menerima sebagai bentuk ganti rugi.”
Tati mengatakan, setelah operasi pertama kondisi anaknya sempat memburuk karena saluran kencing kembali tertutup sehingga harus menjalani operasi lanjutan.
“Air kencing anaknya, tidak bisa keluar karena lubangnya menutup. Akhirnya dipaksa operasi lagi. Setelah itu selangnya malah semakin besar, sampai keluar darah dari kantong kencing. Mau buang air kecil saja dia menjerit kesakitan.”
Meski kondisi fisik DS mulai membaik, trauma psikologis masih membekas. Anak yang akan memasuki kelas 1 SD itu disebut mengalami ketakutan setiap melihat tenaga medis.
“Kalau melihat orang memakai masker atau sarung tangan langsung ketakutan. Dia selalu bilang, ‘DS tidak mau sunat lagi, tidak mau disuntik lagi.’ Pernah tantrum sampai membenturkan kepala ke tembok. Wajahnya sampai memar,” tutur Tati.
Trauma tersebut juga berdampak pada kehidupan sosial korban. Menurut Tati, anaknya sempat menolak keluar rumah, enggan bermain dengan teman sebaya, hingga mengalami perundungan di sekolah.
Baca Juga:Enam Bulan yang Berkesan!Solidaritas untuk Supriadi, Perempuan Pejuang Agraria Titipkan Sepasang Kambing di Polres Tasikmalaya
“Dia di-bully, uang jajannya diambil teman-temannya. Anak saya hanya diam. Sampai akhirnya tidak mau sekolah. Sekarang kalau sekolah harus saya antar dan tunggu sampai pulang karena masih takut,” katanya.
Melalui pengaduan ke KPAID, Tati berharap mendapat pendampingan hukum dan psikologis serta penyelesaian yang adil atas kasus yang menimpa anaknya.
