TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada dua jenis pejabat. Yang ketika pensiun meninggalkan ruangan kosong. Dan yang ketika pensiun meninggalkan cara bekerja. Saya lebih tertarik pada yang kedua.
Mulai 1 Juli 2026, satu lagi birokrat Kota Tasikmalaya menutup map dinasnya untuk terakhir kali. Namanya: H. Dudi Mulyadi, ST., M.Si.
Jabatannya terakhir cukup panjang untuk ditulis di kop surat: Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Pusdiklatsar Paskibra Tingkat Kabupaten Tahun 2026Enam Bulan yang Berkesan!
Tetapi perjalanan kariernya justru tidak panjang-panjang amat jika dilihat dari satu sisi. Karena selama hampir tiga dekade…Ia sebenarnya hanya berjalan di satu rumah.
Rumah bernama Pekerjaan Umum.
Tidak banyak ASN yang seperti itu. Sekarang orang mudah berpindah OPD. Hari ini mengurus kesehatan. Besok mengurus pendidikan. Lusa mengurus perdagangan.
Empat tahun kemudian mengurus investasi. Seolah semua bidang bisa dipelajari sambil berjalan. Dudi tidak demikian. Ia memilih menjadi spesialis.
Sejak menjadi CPNS tahun 1997 sebagai staf Dinas Pemukiman Kabupaten Tasikmalaya, hidupnya nyaris tidak pernah jauh dari gambar teknik. Dari jalan. Drainase. Jembatan. Bangunan. Pemukiman. Infrastruktur.
Dari staf. Naik menjadi kepala seksi. Kepala bidang. Sekretaris dinas. Lalu kepala dinas. Semuanya masih di dunia yang sama.
Dunia yang bau semen. Aspal. Dan gambar kerja.
Bahkan ketika dipercaya memimpin Kantor Lingkungan Hidup, Kepala Kantor Arsip, hingga akhirnya DPMPTSP, cara berpikirnya tetap seperti seorang insinyur. Mengukur. Menghitung. Memetakan. Baru mengambil keputusan.
Mungkin itu sebabnya banyak orang menyebutnya “kadis teknis”. Bukan sekadar mengerti administrasi. Tetapi benar-benar memahami pekerjaan sampai ke akar.
Baca Juga:Solidaritas untuk Supriadi, Perempuan Pejuang Agraria Titipkan Sepasang Kambing di Polres TasikmalayaKetua BEM FH UBK Akui Terima Uang Sebelum Unjuk Rasa di Depan Istana, Civitas Kampus Tuntut Sanksi Tegas
Ia tahu mengapa jalan retak. Ia tahu mengapa saluran mampet. Ia tahu mengapa proyek terlambat. Ia tahu di mana kesalahan gambar. Ia tahu bahasa kontraktor. Ia tahu bahasa konsultan. Dan ia juga tahu bahasa birokrasi. Gabungan seperti itu mulai langka.
Latar belakang pendidikannya memang membentuk itu. Dari D3 Akademi Teknik Pekerjaan Umum. Lalu Sarjana Teknik Lingkungan STTL Yogyakarta. Kemudian menyempurnakan perspektif administrasi melalui Magister Ilmu Administrasi Universitas Garut.
