Di kalangan Nahdliyin, ia lebih dikenal sebagai “A Dudi.” Sapaan yang jauh dari kesan pejabat. Hangat. Membumi.
Ia dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama. Kesederhanaan itu tidak dibuat-buat. Orang mengenalnya demikian jauh sebelum menjadi kepala dinas.
Dari SD Negeri Cikalong 1. SMP Negeri Cikalong. SMU Pancasila. Lalu menempuh pendidikan teknik hingga meraih gelar magister.
Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Pusdiklatsar Paskibra Tingkat Kabupaten Tahun 2026Enam Bulan yang Berkesan!
Perjalanannya bukan kisah yang meledak dalam semalam. Melainkan bertumbuh perlahan. Tangga demi tangga. Jabatan demi jabatan. Hampir tiga puluh tahun. Tepatnya dua puluh sembilan tahun.
Kini perjalanan itu sampai di ujung. Tanggal 1 Juli 2026 bukan sekadar batas usia. Tetapi penanda bahwa satu generasi birokrat teknis mulai bergeser dari panggung.
Yang tersisa nanti bukan lagi tanda tangan. Bukan stempel jabatan. Bukan ruang kepala dinas. Melainkan jejak. Karena pada akhirnya…seorang birokrat tidak dikenang dari berapa lama ia duduk di kursi.
Tetapi dari seberapa banyak sistem tetap berjalan setelah ia berdiri dan pergi. Dan bagi banyak orang di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya, H. Dudi Mulyadi mungkin akan dikenang bukan sebagai pejabat yang paling banyak berbicara.
Melainkan sebagai birokrat yang memahami satu hal yang sering terlupakan.
Bahwa membangun pemerintahan, sama seperti membangun jalan. Fondasinya tidak boleh bergeser sedikit pun.
Sebab jika fondasi mulai bergeser, yang retak bukan hanya bangunannya. Melainkan juga kepercayaan publik. (red)
