Kadis yang Tidak Suka Basa- Basi!

H Dudi Mulyadi
H Dudi Mulyadi
0 Komentar

Teknis ia kuasai. Administrasi ia pelajari. Mungkin karena itulah ia relatif mudah menerjemahkan keinginan pimpinan menjadi pekerjaan yang selesai.

Mantan Penjabat Wali Kota Tasikmalaya, Cheka Virgowansyah, pernah memberi penilaian yang menarik. Bukan soal loyalitas. Bukan pula soal kepintaran. Melainkan soal kemampuan menerjemahkan.

Menurut Cheka, pemimpin akan sangat beruntung memiliki anak buah seperti Dudi. Karena keinginan pimpinan tidak berhenti menjadi instruksi.

Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Pusdiklatsar Paskibra Tingkat Kabupaten Tahun 2026Enam Bulan yang Berkesan!

Tetapi berubah menjadi pekerjaan yang utuh. Detail. Dan tuntas. Kalimat terakhir itu menarik. “Tuntas.” Dalam birokrasi, kata itu mahal. Lebih mahal daripada sekadar “selesai”.

Saya bertanya kepada beberapa orang yang pernah bekerja dengannya. Jawabannya hampir sama. “A Dudi itu keras.” Lalu mereka buru-buru menambahkan. “Tapi adil.”

Ada lagi yang berkata. “Kalau aturan bilang tidak, ya tidak.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di birokrasi, justru itulah ujian terberat. Karena tekanan sering datang bukan dari aturan. Melainkan dari orang.

Dudi dikenal sebagai pejabat yang normatif. Sebagian orang menganggap normatif berarti kaku. Padahal belum tentu. Normatif berarti memilih berdiri di atas regulasi.

Bukan di atas selera. Apalagi kepentingan. Mungkin karena itu pula ia dikenal sulit dikendalikan. Bukan karena keras kepala. Tetapi karena memiliki prinsip.

Prinsip sering kali membuat seseorang terlihat tidak fleksibel. Padahal sebenarnya ia hanya tidak mau melanggar garis.

Di internal organisasi, gaya kepemimpinannya juga khas. Komandonya satu pintu. Ia tidak suka instruksi bercabang. Ia percaya organisasi hanya bisa berjalan jika arah komandonya jelas.

Baca Juga:Solidaritas untuk Supriadi, Perempuan Pejuang Agraria Titipkan Sepasang Kambing di Polres TasikmalayaKetua BEM FH UBK Akui Terima Uang Sebelum Unjuk Rasa di Depan Istana, Civitas Kampus Tuntut Sanksi Tegas

Namun mereka yang lama bekerja bersamanya tahu satu hal. Di balik wajah serius itu, ia cukup memperhatikan anak buah. Kebersamaan tetap dijaga. Disiplin tetap ditegakkan.

Ada yang menganggap Dudi sulit diajak berbicara. Saya justru melihatnya berbeda. Ia bukan sulit berkomunikasi. Ia hanya hemat komunikasi. Tidak semua hal harus dibahas. Tidak semua orang harus dilayani dengan panjang lebar. Ia menjaga ritme. Barangkali itu cara dia menjaga fokus.

Hobinya sepak bola. Olahraga yang mengajarkan satu pelajaran sederhana. Bintang boleh hebat. Tetapi pertandingan dimenangkan oleh tim. Barangkali filosofi itu pula yang ia bawa ke birokrasi.

0 Komentar