Ia bahkan menyoroti peran Bobby Gardiner yang dianggap lebih dekat dengan analisis data dibanding dunia sepak bola lapangan.
“Gardiner adalah orang kantor yang hidup di depan komputer. Pada akhirnya hanya ada dua kemungkinan: mereka adalah orang-orang paling cerdas di dunia atau justru yang paling nekat,” tutupnya.
Kritik-kritik tersebut menunjukkan bahwa proyek baru AC Milan masih harus menghadapi ujian besar sebelum mendapatkan kepercayaan penuh dari publik Italia.
Baca Juga:CEO Juventus Akan Bertemu Agen Franck Kessie: Siap Rekrut Jika Terima Tawaran Gaji 5 Juta EuroTangan Tuhan Maradona, Momen Messi Jadi Pencetak Gol Terbanyak di Piala Dunia
Setelah era Paolo Maldini berakhir dan sejumlah figur penting meninggalkan klub, kini Cardinale mempertaruhkan reputasinya pada model manajemen modern yang lebih mengandalkan analisis data dan jaringan internasional.
Pertanyaannya, apakah pendekatan tersebut mampu membawa Milan kembali bersaing di puncak Serie A dan kembali Liga Champions?
Atau justru memperpanjang periode ketidakpastian yang dalam beberapa musim terakhir membuat Rossoneri sulit menemukan stabilitas? Waktu akan memberikan jawabannya.
