TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Serikat Petani Pasundan (SPP) juga memberikan penjelasan terkait video viral tersebut. Lokasi video berada di lahan eks HGU PT Wiria Cakra, Kabupaten Tasikmalaya.
Wakil Sekretaris Jenderal SPP, Erni Kartini, mengatakan peristiwa tersebut bermula ketika sekitar 20 anggota TNI dari Koramil Cineam mendatangi lokasi eks HGU PT Wiria Cakra. Mereka disebut hendak mengambil alih lahan yang sudah digarap oleh masyarakat setempat.
“Salah seorang anggota TNI sempat menyuruh masyarakat untuk mencabut tanaman yang sudah ditanam oleh masyarakat,” ujar Erni.
Baca Juga:Di Balik Panggung Anniversary STC ke-28: Pasukan Tanpa Honor!Bukan Sekadar Kinclong!
Menurut dia, HGU Wiria Cakra telah habis sejak 2017. Namun tanahnya digadaikan oleh pemegang HGU pertama kepada seorang rentenir bernisial Sh. Sang rentenir kemudian memanfaatkan aset yang ada di lahan HGU berupa pohon karet yang bisa disadap, dengan dalih sebagai jaminan pinjaman pemegang HGU pertama.
“Setelah masa HGU PT Wiria Cakra berakhir, mantan pemegang HGU diduga menggadaikan pohon karet yang berada di atas lahan kepada seseorang bernama Shely. Namun, yang bersangkutan bukan pemegang HGU baru karena perpanjangan HGU tidak disetujui oleh Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya,” ujar Erni saat memberikan keteranganya, Minggu (21/6/2026).
Sampai saat ini, kata dia, rentenir yang dimaksud masih memanfaatkan aset tersebut tanpa dasar legalitas yang jelas. Padahal menurutnya, lahan eks HGU tersebut sebenarnya telah lama digarap oleh masyarakat yang tergabung dalam SPP dan menjadi sumber penghidupan warga selama lebih dari satu dekade.
Ia juga menjelaskan, Bupati Tasikmalaya sebelumnya telah menyatakan bahwa HGU PT Wiria Cakra tidak akan diperpanjang. Oleh karena itu, status lahan tersebut dinilai masih belum memiliki pemegang hak baru dan masih menjadi tanah negara yang pengelolaannya harus melalui mekanisme yang berlaku.
Erni menuturkan, berdasarkan informasi yang diterima masyarakat, anggota TNI yang datang ke lokasi mengaku telah memperoleh izin dari pihak Shely untuk memasuki area tersebut. Kedatangan mereka disebut berkaitan dengan rencana pemanfaatan lahan untuk pembangunan batalyon yang mendukung program ketahanan pangan.
Namun, situasi mulai memanas ketika muncul pernyataan mengenai rencana pencabutan atau pembersihan tanaman yang selama ini ditanam dan dirawat oleh masyarakat.
