TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mendorong potensi industri kerajinan di Kota Tasikmalaya tidak berhenti pada pasar lokal. Penguatan ekosistem industri, ketersediaan bahan baku hingga akses pameran internasional dinilai penting agar produk kerajinan daerah mampu naik kelas dan menembus pasar ekspor.
Hal itu disampaikan Diky saat menghadiri Roadshow Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) DPD Priangan di Kompleks Pusat Pengembangan Industri Kerajinan (PPIK), Jalan Letjen Mashudi, Kecamatan Cibeureum, Selasa (11/8/2026).
Diky mengatakan, Pemkot Tasikmalaya akan menindaklanjuti berbagai masukan yang muncul dalam kegiatan tersebut. Ia meminta hasil pembahasan tidak berhenti sebatas forum, tetapi dituangkan dalam notulen dan diteruskan kepada pimpinan sebagai bahan menyusun langkah konkret.
Baca Juga:APBD Kota Tasik: Kebanyakan Lemak!10 Syarat Menuju Kursi KADIN!
“Harus ada notulen dan harus tersampaikan kepada pimpinan agar ada action plan ke depannya,” kata Diky.
Menurutnya, Kota Tasikmalaya memiliki modal kuat sebagai salah satu sentra kerajinan, termasuk kerajinan berbahan bambu. Potensi tersebut perlu ditopang dengan ketersediaan bahan baku yang memadai agar pelaku usaha tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Salah satu yang disorot yakni kawasan Situ Beet. Diky menyebut, kebutuhan bambu untuk pengembangan kerajinan di kawasan tersebut selama ini masih harus didatangkan dari wilayah kabupaten. “Diharapkan ada penanaman pohon bambu dan sudah diusulkan ke provinsi. Mudah-mudahan bisa sesegera mungkin,” ujarnya.
Selain persoalan bahan baku, Pemkot juga didorong lebih aktif membawa produk kerajinan lokal ke ajang perdagangan berskala nasional maupun internasional. Salah satunya melalui Trade Expo Indonesia (TEI).
Namun, Diky menegaskan, keikutsertaan dalam berbagai pameran harus tetap disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah. Terlebih kondisi keuangan pemerintah daerah saat ini masih menghadapi tekanan.
“Kita harus bisa ikut di pameran TEI selama anggaran ada. Mudah-mudahan BI, Bank BJB, ataupun OJK bisa membantu karena kondisi fiskal kita sedang tidak baik-baik saja,” katanya.
Ia menilai, keterlibatan dalam kegiatan promosi tidak boleh justru menimbulkan persoalan baru dari sisi pembiayaan. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi penting untuk memperluas akses promosi produk kerajinan Kota Tasikmalaya.
