Di sisi lain, Diky juga menyampaikan sejumlah rencana pengembangan potensi daerah yang tengah berjalan. Salah satunya terkait pengembangan kawasan yang berpotensi menjadi sarana wisata edukasi bambu.
Pemkot, kata dia, telah memberikan beberapa alternatif titik lokasi kepada pihak Provinsi Jawa Barat untuk rencana tersebut. Namun, lokasi final masih dalam tahap pembahasan. “Kita sudah berikan tiga titik setidaknya kepada mereka. Sementara ada satu titik yang kemungkinan mereka akan pilih, tapi belum fix,” ungkapnya.
Tak hanya kerajinan, Diky juga menyinggung program pengelolaan sampah berbasis pesantren yang tengah dirintis di wilayah Cibeureum. Program tersebut diberi nama Pesantren Peduli Sampah Tasik (Pekat).
Baca Juga:APBD Kota Tasik: Kebanyakan Lemak!10 Syarat Menuju Kursi KADIN!
Untuk tahap awal, program tersebut akan menjadi percontohan dengan melibatkan sekitar 80 santri. Konsepnya diarahkan agar sampah tidak sekadar menjadi limbah, tetapi dapat kembali memberikan manfaat ekonomi maupun sosial bagi lingkungan. “Bagaimana sampah ini bisa memberikan manfaat untuk kita. Ada yang jadi mebel, ada yang jadi apa segala macam,” tuturnya.
Diky menegaskan, program tersebut tidak menggunakan APBD. Pihaknya masih mencari pola kolaborasi dan dukungan agar percontohan pengelolaan sampah berbasis pesantren itu dapat berjalan secara berkelanjutan. “Sekarang ini masih Pesantren Peduli Sampah. Ada sekitar 80 santri dan sudah berhubungan dengan kyainya. Mudah-mudahan bisa jadi percontohan, bisa menjadi role model untuk Pemerintah Kota Tasikmalaya ke depannya,” pungkasnya.(igi)
