TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ratusan santri di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Muchtar Singarani, Desa Cikadongdong, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, mengalami kesulitan air bersih selama lebih dari sepekan.
Kondisi tersebut terjadi setelah aliran air dari Sungai Cikunten dihentikan sementara oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy yang tengah melaksanakan proyek normalisasi sungai.
Penghentian aliran air berdampak pada berkurangnya serapan air yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan pesantren. Air yang biasa digunakan untuk mandi, mencuci, berwudhu, kebutuhan sanitasi, hingga mengairi kolam ikan kini semakin sulit diperoleh.
Baca Juga:Pasien Jiwa Mengantre (Part 2): Dulu Takut Kelaparan, Kini Takut Tagihan!Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Akibat keterbatasan pasokan air, para santri terpaksa mengantre hingga malam hari untuk mandi dan mencuci pakaian. Air yang tersedia hanya berasal dari sumur serapan yang mulai mengering serta distribusi terbatas dari saluran air yang disalurkan melalui DKM setempat.
Kondisi tersebut mendorong pengurus pesantren menyampaikan keluhan secara terbuka kepada BBWS melalui video yang diunggah di akun TikTok Media Santri Tasikmalaya.
Pengurus Pondok Pesantren Al-Muchtar Singarani, Ustadz Ajeb Singarani, mengatakan keluhan yang disampaikan merupakan bentuk keberatan atas dampak proyek normalisasi Sungai Cikunten yang dinilai mengganggu aktivitas pesantren.
“Kami menyampaikan keberatan sekaligus somasi terbuka kepada BBWS terkait dampak proyek yang menyebabkan terhentinya aliran air menuju Pesantren Al-Muchtar Singarani,” ungkap Ajeb kepada Radar Tasikmalaya, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, kesulitan air yang dialami ratusan santri telah berlangsung selama berbulan-bulan. Kondisi itu memengaruhi berbagai kebutuhan dasar, mulai dari ibadah hingga aktivitas sehari-hari.
“Kami telah menempuh langkah persuasif dengan melakukan audiensi dan menyampaikan kondisi yang terjadi secara langsung kepada pihak BBWS,” terang dia.
Namun hingga saat ini, kata Ajeb, belum ada solusi memadai maupun langkah konkret yang dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan air bagi para santri.
Baca Juga:Satu Bakul dari Kota Tasikmalaya, Banyak Harapan untuk Indonesia!Mencari Dirigen Baru Birokrasi Kabupaten Tasikmalaya!
“Kami menghormati pelaksanaan pembangunan dan proyek strategis yang sedang berjalan. Akan tetapi, pembangunan tidak boleh mengabaikan hak masyarakat untuk memperoleh akses air bersih, terlebih bagi lembaga pendidikan keagamaan yang menampung ratusan hingga ribuan santri,” paparnya.
