Media Italia: Ibrahimovic Terlibat Konfrontasi dengan Gerry Cardinale

Zlatan Ibrahimovic
Zlatan Ibrahimovic Foto: Tangkapan layar Instagram
0 Komentar

Kurang dari dua pekan lagi, mantan striker Swedia itu dijadwalkan bertugas sebagai analis dan komentator untuk Fox Sports selama gelaran Piala Dunia.

Secara profesional, kehadiran Ibrahimovic dalam ajang tersebut tentu merupakan kesempatan besar.

Namun banyak pihak mempertanyakan apakah ini waktu yang tepat untuk meninggalkan Eropa ketika Milan sedang membutuhkan kepemimpinan dan keputusan cepat.

Baca Juga:Dugarry Tuding Gaya Main Arsenal Seperti Sekumpulan Badut: Arteta Mengkhianati Identitas KlubDumfries Selangkah Lagi Gabung Real Madrid, Inter Bidik Marco Palestra

Pertanyaan itu semakin menguat setelah beberapa target utama klub mulai menjauh.

Kegagalan mendapatkan Andoni Iraola menjadi salah satu pukulan bagi Milan. Di sisi lain, tekanan terhadap Cardinale terus meningkat, sementara struktur organisasi klub belum juga terbentuk secara utuh.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian pengamat menilai fokus penuh seharusnya diarahkan untuk membangun kembali fondasi klub, bukan membagi perhatian dengan berbagai aktivitas lain di luar Milan.

Ada pula kekhawatiran bahwa semakin lama proses penunjukan pelatih dan direktur baru tertunda, semakin sedikit pilihan berkualitas yang tersedia di pasar.

Jika hal itu terjadi, Milan berisiko hanya mendapatkan opsi-opsi yang tersisa, bukan figur yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan proyek jangka panjang.

Mantan striker AC Milan, Giampaolo Pazzini, juga ikut memberikan pandangannya mengenai revolusi yang sedang berlangsung di San Siro.

Dalam wawancara dengan SportMediaset, Pazzini menilai perubahan besar yang dilakukan manajemen merupakan konsekuensi langsung dari buruknya akhir musim Rossoneri.

Baca Juga:Ibrahimovic Cuti Panjang, Bergomi Ingatkan Pesan Paolo MaldiniDavide Torchia: Juventus Bisa Jual Semua Pemain Kecuali Yildiz

Menurutnya, Milan sebenarnya sempat menunjukkan tanda-tanda positif pada paruh pertama musim.

“Mereka mungkin tidak memainkan sepak bola yang spektakuler, tetapi terlihat sebagai tim yang rendah hati, solid, kompak, dan hasilnya juga datang,” kata Pazzini.

Namun situasi berubah drastis pada paruh kedua musim. Performa tim menurun tajam hingga akhirnya gagal mencapai target utama.

Pazzini menilai kekalahan melawan Lazio menjadi titik balik yang menghancurkan kepercayaan diri Milan dalam perburuan gelar Serie A.

Setelah itu, Rossoneri perlahan kehilangan momentum dan gagal mengamankan tiket Liga Champions.

Ia secara khusus menyoroti kekalahan dari Cagliari pada laga yang dianggap menentukan nasib satu musim penuh.

“Jika Anda sudah unggul setelah beberapa menit melawan Cagliari, tidak ada alasan untuk kalah dalam pertandingan yang menentukan seluruh musim,” tegasnya.

0 Komentar