RADARTASIK.ID – Kekecewaan terhadap kondisi AC Milan saat ini tidak hanya datang dari para suporter dan pengamat sepak bola.
Sejumlah mantan pemain Rossoneri juga mulai angkat bicara mengenai situasi yang dinilai semakin mengkhawatirkan di bawah kepemimpinan Gerry Cardinale dan penasihat senior klub, Zlatan Ibrahimovic.
Salah satu kritik terbaru datang dari Pietro Paolo Virdis, mantan penyerang legendaris AC Milan yang pernah mempersembahkan gelar Serie A dan Liga Champions bagi klub.
Baca Juga:Daftar Tim dengan Penghasilan Terbesar di Liga Champions: PSG No 1, Inter di Luar 10 BesarJurnalis Italia: Cardinale dan Ibrahimovic Buat Banyak Orang Menolak AC Milan
Melalui unggahan emosional di Instagram, Virdis menyampaikan kegelisahannya terhadap arah yang sedang ditempuh Rossoneri.
Pernyataan Virdis menjadi sorotan karena tidak hanya mengungkapkan kerinduan terhadap era kejayaan Milan, tetapi juga memuat sindiran tajam yang diduga ditujukan kepada Zlatan Ibrahimovic.
Virdis mengunggah sebuah foto kenangan dari masa keemasan AC Milan sehari setelah final Liga Champions.
Foto tersebut membawanya kembali ke masa ketika Rossoneri menjadi salah satu kekuatan paling disegani di dunia sepak bola.
Menurutnya, kesuksesan Milan pada masa itu bukan hanya hasil investasi finansial semata.
Di balik berbagai trofi yang diraih, terdapat visi besar, semangat kolektif, dan kecintaan mendalam terhadap klub.
Ia mengenang bagaimana mimpi besar mantan presiden Silvio Berlusconi, kerja keras Adriano Galliani, serta obsesi pelatih Arrigo Sacchi berpadu menjadi fondasi yang mengantarkan Milan ke puncak dunia.
Baca Juga:Media Italia: AC Milan Pecat Moncada Tanpa Uang PesangonRafael Leao Kirim Pesan Perpisahan, Era Tim Scudetto AC Milan Berakhir
“Foto ini mengingatkan saya pada final Liga Champions pertama setelah bertahun-tahun menunggu. Itu adalah hasil dari mimpi besar Berlusconi, kerja keras Galliani yang membuat jantung berdebar, dan obsesi Arrigo Sacchi. Semua itu membawa kami ke atap dunia dan masuk ke dalam sejarah,” tulis Virdis.
Lebih dari sekadar pemain hebat, Virdis menilai kekuatan terbesar Milan saat itu adalah kebersamaan.
Saat itu, setiap pemain memahami tugasnya dan memiliki kepercayaan penuh terhadap rekan setim.
“Kami selalu yakin bisa melakukannya. Kami tahu lawanlah yang takut kepada kami, bukan sebaliknya,” lanjutnya.
Namun ketika membandingkan masa lalu dengan kondisi Milan saat ini, Virdis melihat perbedaan yang sangat mencolok.
