TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Sosok KH Ahmad Syatibi atau yang lebih dikenal sebagai Mama Kudang menjadi perbincangan dalam Bahtsul Masa’il tentang Pemikiran dan Kiprah Keagamaan dan Keumatan Mama Kudang yang digelar bertepatan dengan haul beliau di kawasan Pesantren Gudang (Kudang Pasantren), Panglayungan, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, Minggu (31/5/2026).
Dalam forum yang dihadiri Plh Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, ulama, santri, cendekiawan dan cendekiawati muslim tersebut, terungkap bahwa Mama Kudang bukan sekadar tokoh pesantren biasa.
Jejak pemikiran, jaringan keilmuan, hingga kiprah sosialnya disebut menjadi salah satu fondasi yang mengantarkan Tasikmalaya dikenal luas sebagai Kota Santri.
Baca Juga:Di Joglo Itu, Budi Mahmud Menyiapkan Masa Depan!Ekonomi Didongkrak Naik Gigi, Ratusan Koperasi Merah Putih di Tasikmalaya Dibekali Armada Operasional
Penulis buku Mama Kudang dan Kota Santri, Dr H A Zaki Mubarak menjelaskan, hasil penelitiannya menunjukkan hampir seluruh pesantren besar di Tasikmalaya memiliki keterkaitan sanad keilmuan dengan Mama Kudang.
“Secara geneologis keislaman, Mama Kudang merupakan salah satu gurunya guru pesantren di Tasikmalaya. Hasil penelitian saya menunjukkan hampir semua pesantren terkoneksi langsung dengan jaringan sanad beliau,” ujar Zaki.
Menurutnya, pengaruh Mama Kudang tidak hanya terlihat dari aktivitas pendidikan pesantren.
Pada masanya, beliau juga mendirikan organisasi keulamaan yang kemudian berkembang menjadi wadah para kiai dan santri untuk berhimpun, menggelar pengajian, kajian keagamaan hingga bahtsul masa’il.
“Anggotanya sekitar 1.300 kiai dan santri. Tujuannya berhimpun untuk melaksanakan pengajian, kajian-kajian dan pembahasan persoalan umat,” katanya.
Zaki menilai ketokohan Mama Kudang semakin kuat karena usianya yang sangat panjang, mencapai lebih dari satu abad.
Dalam rentang waktu tersebut, beliau mampu menggerakkan dan menyatukan banyak ulama di Tasikmalaya maupun wilayah Priangan.
Baca Juga:Kurban Hidup Lagi di SMPN 4 Tasikmalaya, Siswa Belajar Berbagi Lewat 1 Sapi dan 3 DombaBM PAN Kota Tasikmalaya Konsolidasi Struktur, Terus Fokus Bidik Energi Baru dari Generasi Muda
Mengenai asal-usul sebutan Mama Kudang, Zaki menjelaskan terdapat dua penyebutan yang berkembang di masyarakat, yakni Kudang dan Gudang.
Namun secara historis, nama tersebut erat kaitannya dengan kawasan Gudang Pesantren yang menjadi pusat aktivitas keilmuan para kiai dan santri.
“Beliau disebut Mama Gudang karena menjadi gudangnya para kiai dan santri. Dari tempat itu lahir banyak tokoh pesantren yang kemudian menyebarkan ilmu ke berbagai daerah,” terangnya.
