Tak berlebihan jika Mama Kudang disebut memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan Islam di Jawa Barat.
Sejumlah muridnya kemudian menjadi tokoh besar, di antaranya Mama Gentur yang dikenal sebagai pendiri Persatuan Umat Islam (PUI), organisasi yang kini berkembang luas di berbagai daerah.
Selain itu, jaringan murid Mama Kudang juga tersebar di Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi hingga Bandung.
Baca Juga:Di Joglo Itu, Budi Mahmud Menyiapkan Masa Depan!Ekonomi Didongkrak Naik Gigi, Ratusan Koperasi Merah Putih di Tasikmalaya Dibekali Armada Operasional
Nama-nama seperti Mama Toha Cintawana dan Mama Genteng Sukabumi menjadi bagian dari mata rantai keilmuan yang berakar dari pesantren tersebut.
“Pengaruhnya sangat signifikan karena murid-muridnya kemudian menjadi tokoh besar dan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang berkembang sampai sekarang,” katanya.
Dalam kajian tersebut juga dibahas sisi karismatik Mama Kudang yang selama ini hidup dalam tradisi lisan masyarakat.
Zaki menjelaskan, dalam pendekatan tasawuf, terdapat sejumlah kisah yang berkembang sebagai folklor dan menjadi bagian dari narasi sejarah masyarakat pesantren.
Menurut dia, sejumlah cerita mengenai karomah Mama Kudang tidak bisa semata-mata diukur dengan logika modern.
Namun kisah-kisah tersebut tetap menjadi bagian dari warisan budaya dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat.
Sebelumnya, haul Mama Kudang diawali dengan kegiatan tawasul yang berlangsung sejak pagi di Masjid Pesantren Kudang, Jalan Gudang Pesantren, Panglayungan, Cipedes, Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Kurban Hidup Lagi di SMPN 4 Tasikmalaya, Siswa Belajar Berbagi Lewat 1 Sapi dan 3 DombaBM PAN Kota Tasikmalaya Konsolidasi Struktur, Terus Fokus Bidik Energi Baru dari Generasi Muda
Diketahui, Mama Kudang merupakan ulama yang melintasi tiga periode penting sejarah Indonesia, yakni masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang dan era kemerdekaan.
Pesantren Gudang yang didirikannya menjadi pusat pendidikan agama sekaligus pembinaan moral masyarakat.
Warisan pemikiran dan perjuangannya hingga kini masih terus dikaji para akademisi dan peneliti.
Di tengah derasnya arus modernitas, nama Mama Kudang seolah mengingatkan bahwa Tasikmalaya tidak hanya dibangun oleh tembok-tembok pesantren, tetapi juga oleh jejaring ilmu yang diwariskan lintas generasi—sebuah “gudang” peradaban yang hingga kini belum pernah benar-benar kosong. (rezza rizaldi)
