Namun kini, justru tribun legendaris itu terancam kosong sebagai bentuk perlawanan terhadap manajemen.
Serafini bahkan menyebut klub saat ini telah berubah menjadi institusi yang “robotik” dan kehilangan sentuhan emosional dengan suporternya.
“Tujuannya adalah mengisolasi total manajemen klub yang dianggap robotik, terlalu mengandalkan algoritma, dingin dalam perencanaan, dan tanpa belas kasihan dalam menginjak nilai gairah dan rasa memiliki,” tegasnya.
Baca Juga:Ludi: Como Hanya Akan Rekrut Pemain Italia yang Cocok dengan Filosofi FabregasLeao Kirim Sinyal Tinggalkan AC Milan, Florentino Perez Tawari Modric Kembali ke Real Madrid
Kritik tajam juga diarahkan kepada Gerry Cardinale yang dianggap tetap keras kepala meski proyeknya mulai dipertanyakan banyak pihak.
“Cardinale tetap keras kepala. Filosofinya tidak berubah sedikit pun meski sudah dua tahun mengalami Waterloo,” tulis Serafini.
Situasi internal Milan sendiri memang sedang tidak stabil. Setelah berbagai perubahan struktur manajemen dan rumor “pembersihan besar-besaran” di sejumlah departemen klub, ketidakpastian semakin terasa menjelang musim baru.
Nama-nama asing terus dikaitkan dengan posisi penting di staf teknis maupun manajemen, meski sebelumnya sempat muncul janji untuk mengembalikan identitas Italia di dalam klub.
Bagi sebagian tifosi, kondisi itu menjadi simbol bahwa Milan perlahan kehilangan jati dirinya.
Kini para pendukung Rossoneri tampaknya mulai kehabisan kesabaran. Mereka tidak lagi ingin menerima janji tanpa hasil nyata di lapangan.
“Para Milanisti tidak lagi bersedia menunggu, menderita, dan terus diberi harapan palsu. Batas kesabaran telah lama terlewati,” tulis Serafini.
Baca Juga:Fabio Ravezzani: AC Milan Jatuh karena Cardinale Tak Mau Keluarkan UangMarotta Bantah Tinggalkan Juventus karena Ronaldo: Itu Hanya Legenda Urban
Musim panas yang seharusnya menjadi awal kebangkitan Milan justru berpotensi berubah menjadi periode penuh ketegangan.
Jika boikot benar-benar dilakukan secara besar-besaran, tekanan terhadap Cardinale dan manajemen RedBird dipastikan akan semakin besar.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, ancaman terbesar Milan tampaknya bukan hanya datang dari lawan di lapangan, tetapi juga dari kemarahan suporternya sendiri.
