TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kursi itu akhirnya bergerak juga. Bukan kursi wali kota. Bukan pula kursi jabatan politik. Tapi kursi yang justru paling menentukan hidup matinya birokrasi sehari-hari: Sekda Kota Tasikmalaya.
Kursi Panglima ASN. Dan nama yang kini paling kuat mengisinya sementara adalah Hanafi.
Bukan orang baru di Bale Kota Tasikmalaya. Jejaknya sudah terlalu panjang untuk dianggap sekadar pejabat numpang lewat.
Baca Juga:Resolusi Peradaban Pondok Pesantren Dimulai dari Tasikmalaya!Peran Usman!Â
Ia pernah menjadi Kepala BPKAD. Pernah memegang DPMPTSP. Pernah duduk di Diskominfo. Pernah pula menjadi Plt DLH. Kini masih merangkap Plt Kalak BPBD. Dan sekarang menjabat Asda II.
Kariernya seperti berpindah-pindah ruang mesin pemerintahan. Satu hal yang menarik. Hanafi bukan alumni STPDN.
Di banyak daerah, jalur birokrasi sering identik dengan alumni sekolah kedinasan itu. Tapi Hanafi datang dari jalur berbeda. Ia lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat.
Tumbuh bukan dari kultur birokrasi “kampus praja”, tetapi justru mampu bertahan dan naik hingga lingkar inti pemerintahan Kota Tasikmalaya.
Mungkin karena satu hal: ia tahu aturan. Atau minimal dianggap tahu. Maklum, Hanafi pernah menjadi Kabag Hukum Setda Kota Tasikmalaya. Dari sana ia dikenal cukup paham seluk-beluk administrasi pemerintahan. Bahkan kadang terlalu paham.
Sebab di kalangan eselon II, Hanafi punya satu ciri khas: suka mengomentari urusan dinas lain. Bukan rahasia lagi. Ada rapat apa, ada kebijakan apa, ada persoalan di OPD mana — Hanafi sering ikut memberi pandangan. Kadang diminta. Kadang tidak juga.
Secara aturan memang tidak salah. Tapi dalam budaya birokrasi, ada yang menganggap itu kurang etis. Meski akhirnya sudah dimaklumi. Bahkan menjadi semacam “warna tetap” di lingkungan pejabat Pemkot Tasikmalaya. “Hobi mengomentari,” begitu celetukan yang sering terdengar.
Baca Juga:Dompet ASN Itu Terlalu Besar, Hanya untuk Sekadar Disebut Bantuan Musda!Agus Khas Jepara!
Kadang komentarnya bagus. Menjadi masukan. Kadang juga belum tentu benar. Namun justru di situlah Hanafi menonjol: ia jarang diam.
Di mata bawahan, Hanafi juga dikenal keras. Bukan tipe pejabat yang banyak basa-basi. Ia tidak terlalu suka cawe-cawe di luar urusan pekerjaannya sendiri. Ia lebih sering terlihat bekerja dibanding membangun pencitraan.
