TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya tidak merencanakannya. Bahkan tidak ada firasat apa-apa. Sore itu di sebuah hotel di kawasan Soreang, saya hanya ingin duduk sebentar. Mengulur waktu. Menunggu janji berikutnya.
Lalu mata saya berhenti pada satu sosok. Saya seperti pernah melihat wajah itu. Tapi di mana? Dia lebih dulu tersenyum.
Hangat. Tidak kaku seperti politisi yang biasanya penuh hitungan. “Ngopi dulu?” katanya.
Baca Juga:Bambu Apus Effect!Kisah ASN yang Dukung Musda Itu Berkaitan Relasi Bisnis!
Kami pun duduk di lobi hotel itu. Guyub. Intim. Tanpa jarak. Di depan kami: secangkir Americano panas dan sepiring buah segar.
Percakapan pun mengalir seperti air di selokan kampung, tidak terbendung. Namanya: Agus Sutisna. Lengkap dengan gelar panjang di belakangnya: Dr. H. Agus Sutisna, S.H., M.H.
Nama yang membuat saya sempat heran.
Agus? Biasanya nama Agus identik dengan orang Sunda. Saya pun spontan bertanya.
Dia tertawa kecil. “Iya, lahir di Bandung,” katanya santai.
Tepatnya masa kecilnya ditempa di kota Bandung. Sekolah dasar di SDN Citarip Barat 1. Lalu SMP di wilayah Kabupaten Bandung.
Namun hidup membawanya hijrah jauh. Ke Jepara. Di sanalah hidupnya berubah arah. Ia tidak langsung jadi politisi. Tidak juga langsung jadi pejabat.
Ia memulai dari dunia mebel. Saya langsung teringat satu nama: Joko Widodo.
Mirip. Sama-sama dari dunia mebel.
Baca Juga:Di Balik Seragam ASN Itu, Ada Dompet yang Tebal!Tukang Bakso di Tasikmalaya Diduga Diculik Pacar Pelanggannya, Begini Kronologinya
Bedanya: Jokowi melompat sampai kursi Presiden. Agus baru sampai kursi Ketua DPRD. “Baru,” kata saya dalam hati. Bukan “hanya”.
Karena perjalanan menuju kursi Ketua DPRD juga bukan perkara enteng. Yang menarik dari Agus bukan hanya kisah hijrahnya. Tetapi caranya beradaptasi.
Bahasa Jawanya kini medok. Pekat.
Sangat khas Jepara. Namun ketika saya menyapa dalam bahasa Sunda, dia langsung membalas dengan fasih. Lancar. Tanpa jeda.
Kami pun tertawa beberapa kali.
Suasana makin cair. Tentu, karena dia politisi, pembicaraan tak mungkin steril dari politik. Ia adalah kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Partai yang dikenal kuat di kantong-kantong religius.
Di Jepara, Agus dikenal sebagai politisi yang takzim pada para kiai. Juga pada habib, gus, dan ajengan. Di sana, restu ulama bukan sekadar simbol. Itu fondasi.
