TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Setelah isu transfer itu reda setengah, muncul pertanyaan yang lebih tajam. Lebih dalam. Lebih menggelitik logika. Dari mana uang itu berasal?
Pertanyaan ini sebenarnya sederhana. Tapi di negeri ini, pertanyaan sederhana sering menjadi yang paling sulit dijawab.
Apalagi kalau yang mentransfer bukan pengusaha. Bukan politisi. Bukan juga pejabat pusat yang punya akses ke banyak pintu. Ia hanya seorang ASN. Eselon III.
Baca Juga:Tukang Bakso di Tasikmalaya Diduga Diculik Pacar Pelanggannya, Begini KronologinyaSelama Arus Balik Nataru 2024, PLN Lakukan Pemeliharaan untuk Memastikan Listrik Andal
Jabatan yang, menurut buku aturan, cukup strategis. Tapi menurut slip gaji, tetap terbatas. Publik mulai menghitung. Tidak pakai kalkulator canggih. Cukup logika warung kopi.
Gaji eselon III—ditambah tunjangan—memang lumayan. Cukup untuk hidup layak. Cukup untuk mencicil rumah. Cukup untuk menyekolahkan anak.
Tapi untuk menyisihkan puluhan hingga ratusan juta sekali transfer? Di situlah logika mulai tersengal. Apalagi kalau transfer itu bukan untuk beli rumah. Bukan untuk pendidikan anak. Bukan untuk biaya kesehatan keluarga.
Tapi untuk musda. Musda organisasi. Yang bahkan bukan ruang kerja resminya. Maka pertanyaan kedua muncul. Apa sebenarnya jabatannya? Bukan sekadar eselon III di atas kertas.
Publik mulai mengorek—diam-diam. Di kantor mana ia bertugas? Di dinas apa ia berkantor? Bidangnya bersentuhan dengan apa? Karena di republik ini, bidang kerja sering menentukan arah kepentingan.
Kalau ia di bidang pendapatan—orang langsung mengaitkan. Kalau ia di bidang proyek orang langsung curiga. Kalau ia di bidang pengawasan—orang malah lebih heran lagi.
Lalu muncul pertanyaan ketiga. Apakah di balik baju ASN itu ada dunia lain? Bukan dunia hitam. Tapi dunia usaha.
Baca Juga:Prediksi Bournemouth vs Liverpool di Liga Inggris, Statistik, Skor dan Head to HeadPrediksi Susunan Pemain Sevilla vs Fenerbahce di Liga Eropa, Head to Head dan 5 Pertandingan Terakhir
Ada yang mulai berbisik: Ia disebut-sebut punya usaha. Ada yang bilang punya perusahaan. Ada yang menyebut namanya pernah muncul di dokumen bisnis tertentu. Belum tentu benar.
Tapi di republik ini, rumor sering lahir karena kekosongan informasi. Kalau benar ia punya usaha, pertanyaannya makin tajam: Perusahaan apa? Bergerak di bidang apa? Apakah berkaitan dengan proyek Apakah pernah bersentuhan dengan organisasi yang menggelar musda itu?
