TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Belakangan, kabar baru kembali beredar. Tentang ASN berdompet tebal itu. Dia berdinas di Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Katanya, kini ia mulai sering terlihat mencari orang. Bukan mencari teman lama. Bukan juga mencari relasi baru. Katanya… ia sedang mencari yang dulu menerima transfer.
Ada yang bilang ia menagih. Ada yang bilang ia sekadar mengingatkan. Ada pula yang menyebut, nadanya mulai tidak lagi santai.
Baca Juga:Agus Khas Jepara!Bambu Apus Effect!
Seperti orang yang merasa uangnya terlalu lama berjalan tanpa kepastian pulang. Padahal dulu, saat uang itu keluar, suasananya sepi. Tidak ramai. Tidak heboh. Tidak ada saksi yang merasa perlu mencatat.
Sekarang, justru setelah semuanya selesai, barulah suasana menjadi gaduh. Dan publik kembali ke satu pertanyaan lama yang belum juga selesai: Apa sebenarnya pekerjaan di luar ASN itu?
Karena dari cerita yang beredar, ASN ini bukan tipe pegawai yang hidup pas-pasan. Penampilannya rapi. Fashion-nya kekinian. Jam tangannya tidak murah. Sepatunya selalu tampak baru.
Bukan berarti itu salah. Tapi di mata publik, tampilan sering menjadi petunjuk awal. Bahwa mungkin… ada sumber lain di luar gaji resmi.
Ada yang berbisik, ia punya usaha. Tapi usaha apa? Di situlah cerita mulai bercabang. Ada yang menyebut bidang konstruksi. Ada yang menyebut alat kesehatan. Ada pula yang menyebut usaha lain yang belum jelas bentuknya. Semua masih dugaan.
Belum ada yang berani menunjukkan dokumen. Belum ada yang berani menyebut secara terbuka. Tapi satu hal yang pasti: uang sebesar itu tidak mungkin lahir dari ruang kosong.
Kalau benar berasal dari usaha—itu sah-sah saja. ASN boleh punya usaha, selama tidak melanggar aturan. Selama tidak memanfaatkan jabatan. Selama tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.
Baca Juga:Kisah ASN yang Dukung Musda Itu Berkaitan Relasi Bisnis!Di Balik Seragam ASN Itu, Ada Dompet yang Tebal!
Masalahnya bukan pada usaha. Masalahnya pada keterkaitan. Karena publik mulai bertanya: Apakah dana yang digelontorkan ke musda itu hanya dukungan biasa? Atau bagian dari rencana bisnis yang lebih panjang?
Ada yang mulai berbisik lebih jauh. Bahwa mungkin saja dukungan itu bukan sekadar bantuan. Tapi investasi relasi. Relasi dengan pemenang musda. Relasi yang suatu saat bisa berubah menjadi kerja sama. Kerja sama yang bisa berujung pada bisnis. Kalau itu benar—apakah dilarang? Belum tentu.
