TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi produk pabrikan, kerajinan tradisional Payung Geulis Tasikmalaya tetap berdiri sebagai simbol ketekunan budaya yang telah bertahan hampir satu abad.
Meski telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah pada 2022 melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, eksistensi Payung Geulis Tasikmalaya kini justru menghadapi tantangan besar: pasar yang semakin menyempit.
Warisan budaya yang dulu pernah berjaya hingga menembus pasar internasional ini kini berjuang agar tidak hanya menjadi artefak sejarah, tetapi tetap hidup di tengah masyarakat.
Baca Juga:Laba Bank Mandiri Tembus Rp 23,3 Triliun hingga Mei 2026, Pertumbuhan Kredit Masih Melaju KencangPrediksi Meksiko vs Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Skor, Kondisi Tim, dan Susunan Pemain
Dari Tradisi 1930-an hingga Generasi Ketiga Perajin
Jejak sejarah Payung Geulis di Tasikmalaya telah dimulai sejak era 1930-an hingga 1940-an, dipelopori oleh tokoh lokal H Muhi di kawasan Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Kerajinan ini kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya, termasuk keluarga besar pengrajin “Karya Utama” yang kini telah memasuki generasi ketiga.
Menurut penerus perajin Rumah Payung Geulis Karya Utama, Sandi Mulyana, usaha ini bermula dari sebuah perjuangan sederhana.
Sang kakek, A Sahrod, memulai usaha pada 1971 dengan modal pinjaman kecil sekitar Rp 7.000. Dia memiliki keterampilan membuat payung geulis berkat didikan H Muhi saat masih menjadi pegawai sang pelopor.
Dari usaha rumahan yang hanya mampu memproduksi beberapa payung per hari sambil bekerja sebagai tukang becak. “Sehari tiga buah hingga empat buah karena sambil menarik becak,” ungkap Sandi, Minggu, 14 Juni 2026.
Perlahan Payung Geulis tumbuh menjadi ikon budaya Tasikmalaya yang dikenal luas. “Untuk membayar utang modal dibayar dengan barang hasil produksi,” ujarnya.
A Sahrod meninggal tahun 2023. Sepeninggalnya, Rumah Payung Geulis Karya Utama dikelola oleh Emil Yulianti, kakak Sandi Mulyana.
Baca Juga:21 Klub Motor Honda Kumpul di Kuningan, Bahas Masa Depan Paguyuban hingga Identitas Resmi8 Fakta Mengejutkan Kim Jae Won yang Belum Diketahui Penggemar Drama Korea
Emil kemudian meninggal tahun 2014 dan pengelolaan Karya Utama diteruskan oleh Sandi Mulyana yang kini berupaya menjaga rumah produksi payung geulis tetap eksis hingga sekarang.
Proses Pembuatan: Perpaduan Seni dan Ketelatenan
Payung Geulis dibuat dengan teknik tradisional berbasis bahan alami.
Rangka utama menggunakan bambu yang dirakit secara manual, kemudian dilapisi kain atau kertas khusus.
