Laba Bank Mandiri Tembus Rp 23,3 Triliun hingga Mei 2026, Pertumbuhan Kredit Masih Melaju Kencang

Laba Bank Mandiri
Hingga Mei 2026, Bank Mandiri mencatat laba bersih bank-only sebesar Rp 23,3 triliun, tumbuh 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).
0 Komentar

JAKARTA, RADARTASIK.ID – Kinerja keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kembali menunjukkan performa impresif sepanjang lima bulan pertama 2026.

Hingga Mei 2026, Bank Mandiri mencatat laba bersih bank-only sebesar Rp 23,3 triliun, tumbuh 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).

Menurut Stockbit, capaian laba Bank Mandiri tersebut dinilai melampaui ekspektasi pasar karena telah mencapai sekitar 40 persen dari estimasi laba bersih konsolidasi sepanjang tahun 2026.

Baca Juga:Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Skor, Kondisi Tim, dan Susunan Pemain21 Klub Motor Honda Kumpul di Kuningan, Bahas Masa Depan Paguyuban hingga Identitas Resmi

Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, realisasi laba Bank Mandiri baru mencapai sekitar 35 persen dari total laba konsolidasi tahunan.

Pada Mei 2026 saja, laba bersih bank-only Bank Mandiri mencapai Rp 5,3 triliun.

Angka tersebut meningkat 18 persen secara tahunan maupun dibandingkan bulan sebelumnya (month-on-month/MoM), memperkuat tren pertumbuhan yang telah berlangsung sejak awal tahun.

Operasional Solid Dorong Pertumbuhan Laba

Kinerja laba Bank Mandiri didukung oleh operasional yang tetap kuat. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) tercatat tumbuh 14 persen YoY, sementara beban provisi berhasil ditekan hingga turun 16 persen YoY.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang meningkat 10 persen YoY.

Faktor utama di balik kenaikan NII adalah pertumbuhan kredit yang masih sangat kuat.

Hingga Mei 2026, total kredit Bank Mandiri tumbuh 21 persen YoY.

Bahkan jika pinjaman kepada PT Agrinas Pangan Nusantara senilai Rp 55 triliun yang tercatat pada Maret 2026 dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan kredit masih berada di level tinggi, yakni sekitar 16 persen YoY.

Baca Juga:8 Fakta Mengejutkan Kim Jae Won yang Belum Diketahui Penggemar Drama KoreaPemerintah Batalkan Gross Split Mineral dan Batu Bara, Saham Tambang Tahan Banting Saat IHSG Turun

Menariknya, di tengah mulai terasa dampak kenaikan harga minyak dunia pada April dan Mei 2026, total kredit Bank Mandiri masih mampu bertambah sekitar 3 persen dibandingkan posisi Maret 2026.

Hal ini menunjukkan permintaan pembiayaan yang masih relatif kuat di berbagai sektor ekonomi.

Pengetatan Likuiditas Jadi Tantangan Semester II

Di balik pertumbuhan kredit yang agresif, Bank Mandiri juga mulai memperkuat sisi pendanaan untuk menghadapi potensi pengetatan likuiditas pada semester kedua tahun ini.

Data menunjukkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 4 persen secara bulanan dan melonjak 22 persen YoY.

Kenaikan tersebut berasal dari pertumbuhan dana murah (CASA) maupun deposito berjangka (time deposits).

0 Komentar