Setelah itu, bagian dalam dihias dengan benang warna-warni melalui proses yang dikenal sebagai ngararawat.
Sentuhan terakhir dilakukan dengan lem kanji untuk merapikan struktur, menjadikannya bukan sekadar payung, tetapi karya seni bernilai tinggi.
Dahulu, payung ini digunakan sebagai pelindung dari panas dan hujan.
Namun seiring perkembangan zaman, fungsinya bergeser menjadi dekorasi, cinderamata, hingga properti acara budaya.
Baca Juga:Laba Bank Mandiri Tembus Rp 23,3 Triliun hingga Mei 2026, Pertumbuhan Kredit Masih Melaju KencangPrediksi Meksiko vs Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Skor, Kondisi Tim, dan Susunan Pemain
Pernah Mendunia, Kini Tergeser Produk Pabrikan
Pada masa kejayaannya sekitar periode 1968–1995, Payung Geulis sempat menembus pasar internasional seperti Belanda, Italia, hingga Inggris.
Namun sejak krisis ekonomi 1996, produksi dan permintaan mulai menurun drastis.
“Saat itu produksi payung geulis per bulan 600 sampai 750 buah dengan harga sebelum reformasi Rp 3.500–Rp 7.000,” ujarnya.
Produk payung modern yang lebih murah dan praktis membuat posisi Payung Geulis semakin terdesak.
Kini, produk ini lebih banyak digunakan untuk kebutuhan dekorasi, festival budaya, dan kegiatan seni tradisional.
Meski begitu, para perajin tetap berusaha mempertahankan eksistensinya dengan beradaptasi melalui inovasi desain dan fungsi.
Tantangan SDM dan Regenerasi Perajin
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah minimnya generasi muda yang tertarik menekuni kerajinan ini.
Keterampilan melukis dan merangkai payung tradisional membutuhkan ketelatenan tinggi, yang tidak mudah diwariskan di era serba cepat seperti sekarang.
Baca Juga:21 Klub Motor Honda Kumpul di Kuningan, Bahas Masa Depan Paguyuban hingga Identitas Resmi8 Fakta Mengejutkan Kim Jae Won yang Belum Diketahui Penggemar Drama Korea
Selain itu, naiknya harga bahan baku serta fluktuasi pasar turut memperberat kondisi usaha.
Meski demikian, dukungan pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia menjadi salah satu penopang agar produksi tetap berjalan.
“Bersyukur saya soal permodalan saat ini dibantu KUR BRI dari tahun 2020 hingga sekarang. Dengan begitu membantu kerajinan payung geulis terus diproduksi dan menjaga warisan budaya,” katanya.
Produksi Ratusan Unit, Namun Pasar Masih Terbatas
Saat ini, produksi Payung Geulis mencapai sekitar 750–800 unit per bulan dengan harga berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu tergantung ukuran.
“Untuk diameter 50 cm dibandrol dengan harga Rp 50 ribu per biji. Sedangkan diameter 66 cm harganya Rp 60 ribu per biji dan diameter 84 cm Rp 75 ribu per biji,” ujarnya.
