Payung Geulis Tasikmalaya Bertahan Hampir Seabad, Kini Terancam Redup di Tengah Serbuan Produk Modern

Payung Geulis Tasikmalaya
Penerus Perajin Payung Geulis Karya Utama, Sandi Mulyana saat membuat lukisan di payung geulis, Minggu, 14 Juni 2026. (Fatkhur Rizqi/Radartasik.id)
0 Komentar

Produk ini dipasarkan ke berbagai kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Bali.

Namun omzet yang dihasilkan masih terbatas dan belum mampu membuka akses ekspor baru, meski sebelumnya produk ini pernah dikenal di pasar internasional. “Total untuk omzet kotor per bulan Rp 15–20 juta,” ungkapnya.

Dia berharap adanya dukungan lebih luas, termasuk dari lembaga pengembangan UMKM seperti Rumah BUMN BRI, agar Payung Geulis kembali mampu bersaing di pasar global.

Baca Juga:Laba Bank Mandiri Tembus Rp 23,3 Triliun hingga Mei 2026, Pertumbuhan Kredit Masih Melaju KencangPrediksi Meksiko vs Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Skor, Kondisi Tim, dan Susunan Pemain

“Harapan kami payung geulis bisa ekspansi kembali ke belahan dunia Eropa,” harapnya.

Pemimpin Cabang (Pinca) BRI Kantor Cabang Tasikmalaya, Hoki Agusta Rino Atmaja, menegaskan bahwa penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi bagian dari komitmen BRI dalam memperkuat sektor UMKM.

“Sasaran utama KUR BRI adalah pelaku UMKM produktif yang memiliki usaha layak dan potensial untuk berkembang, namun belum memiliki kecukupan agunan tambahan atau akses pembiayaan komersial yang memadai,” tuturnya.

Hingga Januari–Mei 2026, penyaluran KUR di wilayah Tasikmalaya tercatat mencapai Rp 314,8 miliar dengan 8.179 debitur.

Program ini diharapkan mampu mendorong pelaku usaha kecil, termasuk perajin tradisional seperti Payung Geulis, agar dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, dan naik kelas secara ekonomi. (Fatkhur Rizqi)

0 Komentar