TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Silaturahmi Forum Lurah se-Kota Tasikmalaya di Aula Kantor Kelurahan Parakanyasag, Kecamatan Indihiang, Selasa (5/5/2026), tak sekadar menjadi ajang temu rutin.
Di balik suasana hangat berbagi sembako, terselip pesan tegas dari Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, bahwa keberhasilan pembangunan tak lagi bisa diukur dari tumpukan dokumen—melainkan dari denyut nadi yang benar-benar dirasakan warga.
Viman mengapresiasi kegiatan sosial berupa pembagian paket sembako yang dinilai sebagai bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.
Baca Juga:Biaya Haji Plus di Kota Tasikmalaya Rp 250 Jutaan, Antrean Lebih SingkatRekonstruksi Lahan Lapangan Olahraga di Kota Tasikmalaya Sempat Memanas, Dugaan Maladministrasi Menguat
Ia menyebut, langkah tersebut bukan sekadar bantuan seremonial, melainkan penguat solidaritas sosial.
Namun, di balik apresiasi itu, ia menyisipkan “alarm halus” bagi jajaran lurah dan camat.
Menurutnya, forum tersebut harus menjadi ruang strategis, bukan sekadar seremoni yang berakhir pada foto bersama.
“Ukuran keberhasilan pembangunan bukan pada dokumen perencanaan, tetapi pada apa yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Data yang disampaikan menunjukkan wajah ganda Kota Tasikmalaya. Di satu sisi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) telah mencapai 76,59 dan pertumbuhan ekonomi berada di angka 5,39 persen. Tingkat pengangguran pun mulai membaik.
Namun di sisi lain, angka kemiskinan masih bertengger di kisaran 10,84 persen—sebuah angka yang seolah menjadi pengingat bahwa pertumbuhan belum sepenuhnya merata.
Di sinilah, kata Viman, peran kelurahan menjadi krusial. Ia menegaskan bahwa pendekatan pembangunan ke depan tak bisa lagi seragam, melainkan harus berbasis kewilayahan.
Baca Juga:10 Korban Penyiraman Air Keras di Manonjaya Tasikmalaya, Ini Daftar Nama dan KondisinyaRuang Kreatif Seni Pertunjukan Kembali Hadir: Seniman Muda Didorong Naik Kelas, Bukan Sekadar Pentas
Lurah dan camat diminta menjadi “mesin penggerak”, bukan sekadar pelaksana administratif.
Tema pembangunan 2027 yang diusung, yakni peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik, diminta tidak berhenti sebagai jargon.
Ia menekankan enam fokus utama: penguatan pelayanan publik, inovasi kewilayahan, pengelolaan sampah, penanganan stunting, penguatan ekonomi lokal, serta stabilitas wilayah.
Dalam nada yang cukup satir namun realistis, Viman mengingatkan bahwa pelayanan publik tidak boleh lagi menyulitkan masyarakat.
“Kelurahan harus jadi tempat yang mudah diakses, cepat melayani, dan mampu menyelesaikan persoalan,” tegasnya—sebuah sindiran halus terhadap praktik birokrasi yang masih kerap berbelit.
