JAKARTA, RADARTASIK.ID – Di tengah geliat industri kreatif yang kerap riuh di permukaan namun rapuh di fondasi, Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menggulirkan Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026.
Program ini bukan sekadar panggung, melainkan “ruang tempur” bagi seniman muda untuk menguji ide, memperkuat manajemen, hingga menakar daya tahan karya di hadapan publik.
Program yang sempat vakum sejak 2019 ini hadir dengan wajah baru—lebih adaptif terhadap tuntutan zaman yang menuntut seniman tak hanya piawai berkarya, tetapi juga lihai mengelola ekosistemnya.
Baca Juga:Dendam ini yang Picu Kurir Siram Air Keras di Manonjaya Tasikmalaya, 10 Korban TerlukaSarasehan Peradi Tasikmalaya Soroti Hukum Tanpa Budaya Bisa Pincang
Di sinilah kritik halus itu terasa: kreativitas tanpa sistem hanya akan jadi euforia sesaat.
Program Director Bakti Budaya, Renitasari Adrian, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin sekadar melahirkan karya, tetapi juga membangun fondasi pelaku seni.
“Kami ingin menciptakan ruang yang mendorong kualitas sekaligus memperkuat proses kreatif hingga karya bisa bertemu publik secara lebih terstruktur,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Ruang Kreatif 2026 membuka peluang bagi komunitas seni dari seluruh Indonesia—mulai tari, musik, teater, sastra, hingga pertunjukan kontemporer berbasis kearifan lokal.
Namun, jalan menuju panggung utama tak mudah. Dari ratusan proposal, hanya 13 karya terbaik yang akan lolos hingga tahap produksi dan pementasan.
Sebagai pintu masuk, digelar roadshow Bincang Kreatif Seni Pertunjukan di empat kota:
* Kupang (1 Mei 2026).
* Banjarmasin (7 Mei 2026).
* Tasikmalaya (11 Mei 2026).
* Lampung (13 Mei 2026).
Tasikmalaya sendiri menjadi salah satu titik penting, seolah menegaskan bahwa daerah bukan lagi sekadar penonton dalam peta seni nasional.
Baca Juga:Ironi Hardiknas, Surat Terbuka Pegiat Pendidikan Kota Tasikmalaya untuk Presiden Prabowo dan Wapres GibranPSSI Kota Tasikmalaya Perkuat Grass Root Lewat Liga Jabar Istimewa
Program ini menyasar peserta berusia 18–35 tahun dengan rekam jejak komunitas. Mereka diwajibkan mengajukan proposal lengkap—dari konsep hingga anggaran maksimal Rp35 juta.
Proses seleksi pun berlapis: dari 100 besar, menyusut ke 25, hingga akhirnya menyisakan 13 proposal unggulan yang akan “digembleng” lewat workshop, pitching, hingga mentoring intensif.
Nama-nama kurator dan juri yang dilibatkan bukan kaleng-kaleng. Ada Keni Soeriaatmadja, Mitae Mita, hingga sineas kawakan Garin Nugroho dan praktisi seni Toto Arto. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa kualitas bukan sekadar jargon promosi.
