Menurut Keni, program ini menjadi ruang penting yang tak hanya memberi panggung, tetapi merawat pertumbuhan seniman muda.
“Yang menarik, bukan hanya hasil akhir, tapi proses—ruang belajar kritis, dialog terbuka, dan dokumentasi berjalan beriringan,” tuturnya.
Tahapan program berlangsung dari Juni hingga Desember 2026, dengan puncak pementasan di Galeri Indonesia Kaya. Di titik ini, karya tak lagi sekadar ide, melainkan produk yang siap diuji publik.
Baca Juga:Dendam ini yang Picu Kurir Siram Air Keras di Manonjaya Tasikmalaya, 10 Korban TerlukaSarasehan Peradi Tasikmalaya Soroti Hukum Tanpa Budaya Bisa Pincang
Di balik kemasan program, terselip pesan yang tak bisa diabaikan: ekosistem seni Indonesia masih butuh banyak “ruang serius” seperti ini.
Sebab tanpa pembinaan berkelanjutan, panggung hanya akan jadi seremoni—ramai sesaat, lalu sunyi kembali. (rezza rizaldi)
