TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Menjelang keberangkatan ibadah haji, ancaman tak kasat mata justru ikut mengintai.
Di Kota Tasikmalaya, calon jemaah mulai dibidik penipuan digital yang memanfaatkan momen sibuknya persiapan Kloter 20 yang dijadwalkan terbang 5 Mei 2026.
Kewaspadaan kini bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kota Tasikmalaya, Husna Mustopa, mengingatkan jemaah agar tidak mudah terpancing komunikasi mencurigakan yang mengatasnamakan instansi resmi.
Baca Juga:Uji Coba CFD ASN Kota Tasikmalaya Menuju Rabu Biru Terus Digelorakan, Wali Kota Kasih ContohBNN Kota Tasikmalaya Gandeng Pramuka, Deteksi Dini Narkoba Diperkuat
“Jangan sembarangan klik link dari nomor tidak dikenal. Jangan berikan data pribadi, apalagi mentransfer uang dengan alasan apa pun,” tegasnya, Selasa (28/4/2026).
Modus yang digunakan pelaku kian licin. Mereka tak lagi sekadar mengirim pesan acak, tetapi menyusun narasi seolah-olah berkaitan dengan kebutuhan administratif jemaah, seperti kartu nusuk atau kartu pintar.
Di titik ini, penipuan tak hanya bermain di teknologi, tapi juga psikologi—mengincar kepanikan dan rasa khawatir calon jemaah.
“Biasanya dikaitkan dengan dokumen penting supaya terlihat resmi. Padahal itu bukan dari kami,” ujarnya.
Husna menegaskan, seluruh proses resmi tidak pernah dilakukan melalui jalur komunikasi pribadi. Tidak ada permintaan data atau transaksi keuangan via telepon maupun pesan singkat.
Jika ada pihak yang mengatasnamakan kementerian atau instansi lain, termasuk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, dan meminta data atau uang, itu hampir pasti penipuan.
Fenomena ini bukan sekadar potensi. Sedikitnya lima calon jemaah di Kota Tasikmalaya dilaporkan telah dihubungi pihak tak dikenal dengan modus serupa.
Baca Juga:Keluhan Layanan RS Swasta Mencuat, DPRD Kota Tasikmalaya Soroti Dugaan Calo dan Respons LambatAncaman Penutupan Prodi Kependidikan, kata Ketua PGM: Kebijakan yang Tergesa
Bahkan di daerah lain, pola yang sama sudah memakan korban—alarm bahwa kejahatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan terorganisir dan menyasar sistematis.
“Sudah ada yang ditelepon. Ini harus jadi perhatian bersama,” katanya.
Di tengah derasnya arus informasi, jemaah diminta tidak gegabah. Setiap pesan yang meragukan sebaiknya diverifikasi melalui jalur resmi.
Sebab di era digital, yang tampak meyakinkan belum tentu bisa dipercaya—sebuah ironi di tengah persiapan ibadah yang mestinya penuh ketenangan.
Sementara itu, persiapan keberangkatan Kloter 20 tetap berjalan sesuai rencana. Sebanyak 441 calon jemaah, termasuk petugas, telah dinyatakan siap setelah seluruh administrasi rampung.
