Mattia De Sciglio: Juventus Jadi Balas Dendam Terindah dari Hinaan Fans AC Milan

Mattia De Sciglio
Mattia De Sciglio Foto: Tangkapan layar Instagram@mattiadesciglio2
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Perjalanan karier Mattia De Sciglio menjadi potret tentang jatuh, bangkit, dan pembuktian.

Dari seorang tifosi AC Milan yang tumbuh di akademi Rossoneri, De Sciglio akhirnya menorehkan prestasi bersama Juventus,

Ia bahkan menyebut masa baktinya di Turin sebagai balas dendam terindah atas periode penuh tekanan yang pernah ia alami.

Baca Juga:Inter Makin Italia: Bidik Kiper Lokal yang Sedang Merantau ke InggrisAllegri Minta Jaminan Furlani dan Igli Tare Beli Pemain yang Sesuai dengan Nama Besar AC Milan

Dalam wawancara dengan Corriere della Sera, bek kanan berusia 33 tahun yang kini berstatus tanpa klub itu membuka kembali lembaran penting dalam kariernya, termasuk masa sulit ketika ia menjadi sasaran kritik dan hinaan sebagian fans Milan.

De Sciglio menembus tim utama Milan pada 2011 dan mengaku langsung merasakan mimpi yang menjadi kenyataan.

“Saya hidup dalam mimpi. Saya penggemar Milan yang mengenakan jersey Rossoneri, dan Paolo Maldini adalah idola saya,” kenangnya.

Namun, seiring meredupnya prestasi Milan, situasi berubah drastis.

Cedera yang mengganggu membuat De Sciglio kehilangan stabilitas performa, dan namanya perlahan menjadi target kemarahan publik San Siro.

“Di Milan, sebuah siklus telah berakhir dan segalanya tidak berjalan baik. Cedera membuat saya kehilangan ritme. Setelah beberapa penampilan yang kurang meyakinkan, semuanya mulai berubah,” ujarnya.

De Sciglio mengaku tak pernah benar-benar memahami alasan dirinya menjadi sasaran utama kritik fans Milan.

“Saya tidak pernah bisa menjelaskannya. Sebagian fans dan media menjadikan saya seolah-olah penyebab situasi buruk klub,” katanya.

Baca Juga:Liverpool Kesal, Juventus Ingin Comot Alisson Becker Tanpa Biaya TransferTanpa Ranieri dan Massara, Tiket Liga Champions Cara Gasperini Kendalikan AS Roma

Ia mengingat bagaimana media sosialnya dipenuhi hinaan. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk memicu gelombang kritik.

“Padahal saya selalu bersikap profesional. Itu masa yang sangat berat secara mental,” tambahnya.

Situasi tersebut mendorongnya mengambil keputusan besar: meninggalkan Milan. Tawaran datang dari beberapa klub, termasuk Liverpool, tetapi De Sciglio memilih Juventus.

Keputusan pindah ke Turin terbukti krusial. Kehadiran Massimiliano Allegri di bangku pelatih dan kekuatan skuad Juventus memberi De Sciglio lingkungan yang tepat untuk bangkit.

“Masuk ke ruang ganti yang diisi para juara adalah pengalaman luar biasa. Setelah juga tampil sebagai pemain penting di ajang Euro, itu menjadi pembalasan yang indah setelah masa sulit yang saya jalani,” ungkapnya.

0 Komentar