RADARTASIK.ID – Perubahan besar tengah terjadi di tubuh AS Roma menjelang akhir musim ini.
Kepergian Claudio Ranieri sebagai penasihat senior klub menjadi titik awal dari restrukturisasi menyeluruh yang kini mengarah pada satu sosok kunci: Gian Piero Gasperini.
Padahal Ranieri bukan figur biasa. Ia adalah simbol klub—pernah menjadi pemain, pelatih, hingga bagian dari manajemen.
Baca Juga:Jurnalis Italia: Chivu Ajari Fabregas Pentingnya Kemenangan bagi Klub, Pemain, Kota dan PemilikLuciano Moggi: Skuad AC Milan Lebih Kuat dari Juventus
Namun setelah dua pekan penuh dinamika dan ketegangan internal dengan Gasperini, pemilik klub, Dan Friedkin dan Ryan Friedkin, memilih mengakhiri kerja sama melalui kesepakatan bersama.
Langkah ini diambil demi satu tujuan: memberikan kendali penuh kepada Gian Piero Gasperini.
Pelatih dengan karakter kuat dan filosofi permainan agresif itu kini menjadi pusat proyek jangka panjang Giallorossi.
Tidak hanya Ranieri, Frederic Massara juga berpotensi hengkang, yang berarti Gasperini akan memiliki pengaruh lebih besar dalam menentukan arah teknis tim.
Namun, kebebasan ini datang dengan tekanan yang sangat besar.
Dalam kolom editorialnya di Tuttomercatoweb, jurnalis Lorenzo Di Benedetto menegaskan bahwa musim depan akan menjadi penentu segalanya bagi Gasperini. Ia menulis secara tegas:
“Tanpa bertele-tele, musim depan akan menjadi segalanya bagi Gasperini,” ulasnya.
Lebih lanjut, Benedetto menyoroti bahwa keputusan klub melepas Ranieri dan kemungkinan Massara bukanlah langkah biasa, melainkan pertaruhan besar yang sepenuhnya dibebankan kepada satu sosok pelatih.
Baca Juga:Claudio Ranieri Tinggalkan AS RomaSiapa Juara Liga Inggris Jika City dan Arsenal Punya Poin yang Sama di Akhir Musim
“Ia kemungkinan besar akan menjadi pilihan utama pemilik klub… yang siap melepas Claudio Ranieri dan Frederic Massara,” lanjutnya.
Konsekuensinya jelas. Gasperini tidak hanya dituntut membangun tim, tetapi juga harus langsung menghadirkan hasil nyata. Target utama pun sudah ditetapkan tanpa ruang kompromi:
“Satu-satunya cara untuk menjawabnya adalah dengan hasil di lapangan—setidaknya membawa Roma lolos ke Liga Champions musim 2027/2028. Margin kesalahan hampir tidak ada,” bebernya.
Analisis Benedetto menunjukkan bahwa Roma saat ini mengambil pendekatan “all-in”.
Dengan menghilangkan figur penyeimbang di belakang layar, klub memberikan kekuasaan penuh kepada Gasperini—tetapi sekaligus menempatkannya di bawah tekanan maksimal.
