RADARTASIK.ID – Pandangan tajam datang dari jurnalis Italia Lorenzo Di Benedetto yang menyoroti dinamika pelatih di Serie A musim ini.
Dalam ulasannya di Tuttomercatoweb, ia menekankan bahwa sepak bola modern tetap memiliki hukum lama: mereka yang memahami esensinya akan tetap unggul.
Mengutip pernyataan lama Massimiliano Allegri, Di Benedetto mengingatkan bahwa dominasi satu tim atau pelatih bukanlah kebetulan.
Baca Juga:Luciano Moggi: Skuad AC Milan Lebih Kuat dari JuventusClaudio Ranieri Tinggalkan AS Roma
“Jika yang menang selalu itu-itu saja, pasti ada alasannya,” menjadi dasar analisisnya terhadap musim yang penuh kejutan, terutama dengan munculnya nama Cristian Chivu.
Chivu, yang menjalani musim debutnya sebagai pelatih penuh di Serie A, dinilai sukses besar dan bahkan berada di jalur meraih Scudetto pertamanya.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pendekatan yang tepat, keseimbangan taktik, dan pemahaman permainan masih menjadi kunci utama, bukan sekadar eksperimen tanpa arah.
Di sisi lain, Maurizio Sarri juga mendapat pujian tinggi. Bersama Lazio, ia menjalani musim yang nyaris sempurna.
Terlepas dari hasil final Coppa Italia pada 13 Mei mendatang, Sarri telah menunjukkan kualitasnya sebagai pelatih berpengalaman yang mampu mengelola tim dalam situasi sulit.
Menurut Di Benedetto, Chivu dan Sarri secara tidak langsung telah “mengajari” pelatih muda seperti Cesc Fabregas dan Raffaele Palladino tentang arti penting kemenangan—bukan sekadar hasil, tetapi dampaknya bagi seluruh elemen klub.
Fabregas menjadi sorotan utama setelah kegagalan Como 1907 di dua laga penting melawan Inter Milan.
Baca Juga:Siapa Juara Liga Inggris Jika City dan Arsenal Punya Poin yang Sama di Akhir MusimSiapa Samuel Martinez? Bocah 17 Tahun Titisan Kaka dari Kolombia
Dalam dua pertandingan beruntun di liga dan Coppa Italia, Como sempat unggul dua gol, namun gagal mempertahankan keunggulan tersebut.
Kekalahan pertama di liga masih bisa dipahami, mengingat kualitas Inter yang mampu bangkit.
Namun kekalahan kedua di semifinal Coppa Italia dinilai jauh lebih menyakitkan. Bermain di San Siro, Como justru tampil dominan dalam sebagian besar pertandingan, tetapi kembali runtuh dan kebobolan tiga gol dalam waktu kurang dari 10 menit, hingga akhirnya kalah 3-2.
Di sinilah letak kritik utama. Pujian Fabregas kepada pemainnya setelah laga dianggap tidak cukup.
