TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – GOR Sukapura Dadaha Kota Tasikmalaya bergemuruh, Jumat (24/4/2026).
Sebanyak 358 petinju dari berbagai daerah tumpah ruah di ajang Boxing Van Java Tasikmalaya —sebuah panggung yang tak sekadar menguji pukulan, tapi juga mengalihkan “energi liar” anak muda ke jalur yang lebih beradab.
Ledakan antusiasme terasa sejak siang. Tribun penuh, peluit wasit bersahutan, dan denting bel ronde jadi musik wajib.
Di atas ring, duel bukan hanya soal menang-kalah, tapi juga soal siapa paling tahan tekanan—baik dari lawan maupun dari kehidupan di luar arena.
Ketua Panitia, Wawan Wardiana, mengungkapkan total 358 petinju ambil bagian.
Baca Juga:Cing Eling Jadi Alarm Moral Persit Kodim 0612 Tasikmalaya, Dari Rutinan Jadi Refleksi HidupKolam Dikuras, Ikan Raib: Aksi Senyap Maling di Mangkubumi Tasikmalaya
Sebanyak 110 bertarung di kelas atlet, sementara 248 lainnya meramaikan kelas non-atlet—kategori yang justru menyimpan “drama jalanan” yang disulap jadi sportivitas.
“Ini bukan sekadar pertandingan. Kami ingin anak-anak muda punya pilihan: sarung tinju atau masalah di jalan,” ujar Wawan kepada wartawan, setengah berseloroh, setengah menyindir realitas.
Peserta datang dari berbagai penjuru—Medan, Bali, hingga kota-kota di Jawa Barat.
Nama-nama klub dari Bandung, Garut, Cirebon, hingga Jakarta memenuhi daftar tanding. Jarak jauh tak jadi soal, selama ring masih berdiri dan peluang menang masih terbuka.
Di kelas atlet, pertarungan berlangsung teknis dan terukur. Kombinasi pukulan, footwork, dan stamina jadi senjata utama.
Sementara di kelas non-atlet, semangat sering kali melampaui teknik. Banyak debutan naik ring dengan modal nekat—dan tepuk tangan penonton sebagai “vitamin mental”.
Format dua kelas ini sengaja dibuka panitia. Atlet difokuskan untuk prestasi dan pencarian bibit unggul, sementara non-atlet menjadi ruang aman bagi pemula—pelajar, pekerja, hingga mereka yang butuh pelampiasan selain emosi di jalanan.
Baca Juga:Kasus Dugaan Asusila Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Masih pendalaman, Polisi Periksa 5 SaksiFossma Sentil Transparansi APBD Kota Tasikmalaya, DPRD Diminta Turun dari Menara Anggaran
“Daripada tawuran tanpa aturan, lebih baik bertarung di ring dengan wasit dan nilai,” tambah Wawan.
Ajang ini menjadi debut Boxing Van Java di Tasikmalaya dan akan berlangsung selama tiga hari, 24–26 April 2026.
Meski baru pertama digelar, respons publik membludak. Final diprediksi akan lebih padat—karena di situlah gengsi, teknik, dan stamina benar-benar diuji tanpa kompromi.
