Cing Eling Jadi Alarm Moral Persit Kodim 0612 Tasikmalaya, Dari Rutinan Jadi Refleksi Hidup

kegiatan Persit Kodim 0612 Tasikmalaya
Pertemuan Gabungan Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIII Kodim 0612/Tasikmalaya di Gedung Juang 45, Jumat (24/4/2026). Pendim 0612 Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kalimatnya pendek, nadanya ringan, tapi daya hantamnya tak main-main: Cing eling. Dari sekadar pengingat, ia menjelma jadi semacam alarm moral dalam Pertemuan Gabungan Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIII Kodim 0612/Tasikmalaya di Gedung Juang 45, Jumat (24/4/2026).

Agenda yang lazimnya administratif berubah arah—lebih mirip ruang jeda untuk menimbang hidup. Para istri prajurit tak hanya duduk rapi, tapi juga diajak menata ulang cara pandang: tentang peran, syukur, hingga arah langkah ke depan.

Kegiatan dibuka dengan sentuhan ekonomi kerakyatan. Produk UMKM karya anggota Persit dipamerkan sekaligus dipasarkan—bukan sekadar jualan, tapi simbol bahwa kemandirian tak harus menunggu perintah.

Baca Juga:Kolam Dikuras, Ikan Raib: Aksi Senyap Maling di Mangkubumi TasikmalayaKasus Dugaan Asusila Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Masih pendalaman, Polisi Periksa 5 Saksi

Kehadiran Dandim 0612/Tasikmalaya Letkol Czi M. Imvan Ibrahim bersama Ketua Persit Ny. Rima Mutia Imvan Ibrahim memberi warna hangat. Didampingi jajaran, ratusan anggota dari staf Kodim hingga Koramil larut dalam kebersamaan yang terasa utuh—sunyi tapi solid.

Seremoni tetap berjalan: doa, Indonesia Raya, hingga Hymne Persit. Namun, titik tekan ada pada pengarahan pembina. Dengan gaya sederhana, pesan yang disampaikan justru mengendap lama: hidup bukan sekadar dihitung harinya, tapi dimaknai isinya.

Ajakan itu lugas: cari rezeki halal, jaga pikiran dari prasangka, rawat kepercayaan dengan husnudzon. Bahkan satu kalimat reflektif sempat menggantung di ruang: “Benar belum tentu baik, dan baik belum tentu benar.” Sebuah pengingat bahwa hidup tak cukup pakai logika, tapi juga nurani.

Nama baik keluarga dan satuan, lanjutnya, bukan urusan seremonial—melainkan disiplin sunyi yang dijaga tiap hari. Rendah hati, banyak doa, dan tidak silau oleh keadaan menjadi garis tegas yang disampaikan.

Setelah pembina meninggalkan lokasi karena agenda lanjutan, estafet dilanjutkan Ketua Persit. Ny. Rima Mutia Imvan Ibrahim mengajak anggota kembali ke “DNA organisasi”: nilai Suluh Persit—dari suci hingga tanggung jawab.

Ia menyoroti hal yang kerap dianggap remeh tapi justru krusial: etika berorganisasi. Senyum, sapa, dan saling menghargai disebut bukan basa-basi, tapi fondasi.

0 Komentar