“Di sana dipukul lagi, dikasih balsem, dimasukkan bako rokok ke mulutnya. Itu supaya mengaku,” tuturnya.
Fajar menegaskan pengakuan yang keluar dari pamannya bukanlah fakta, melainkan akibat tekanan.
“Mengaku karena takut,” katanya singkat.
Di sisi lain, polisi masih berhati-hati menyikapi kasus ini.
Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Herman Saputra, menyebut hingga kini proses masih dalam tahap pendalaman, terlebih sebelumnya belum ada laporan resmi yang masuk.
Baca Juga:Tiga Periode Tanpa Banyak Suara!BBM Non Subsidi Naik, Diky Candra Pilih “Parkir” Pajero Dinas Wakil Wali Kota Tasikmalaya
“Ini seperti film dua alur. Masing-masing punya versi,” ujarnya.
Versi pertama datang dari pihak perempuan yang mengaku mengalami sentuhan pada bagian sensitif.
Versi kedua menyebut adanya penganiayaan terhadap pedagang bakso.
Namun, Herman menilai unsur penculikan belum tentu terpenuhi. Pasalnya, korban disebut dibawa dengan sepengetahuan keluarga untuk dimediasi.
“Kalau ada komunikasi dengan keluarga, unsur penculikan belum tentu ada. Tapi dugaan kekerasan masih kami dalami,” jelasnya.
Polisi juga menanggapi berbagai spekulasi yang beredar di masyarakat, mulai dari isu kekerasan brutal hingga dugaan pemerasan. Semua, kata dia, masih dalam proses verifikasi.
Sejauh ini, polisi menduga sekitar empat orang terlibat dalam aksi penganiayaan. Namun jumlah pasti dan peran masing-masing masih ditelusuri.
Kasus ini sendiri dipicu dugaan kesalahpahaman di warung bakso.
Kabarnya senggolan saat melayani pembeli diduga disalahartikan sebagai tindakan tidak senonoh—yang kemudian memantik emosi dan berujung aksi main hakim sendiri.
Baca Juga:Kasus Dugaan Penculikan Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Menggantung, Unsur Pidana Masih DidalamiAtribut Aksi Diangkut, Amarah Diantar ke Ruang Wali Kota Tasikmalaya
Di Kota Tasikmalaya, semangkuk bakso yang biasanya menghangatkan, kali ini justru menyisakan rasa getir: antara tuduhan, amarah, dan hukum yang kini dituntut bicara lebih jernih. (rezza rizaldi)
