TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kenaikan harga BBM non-subsidi mulai menggoyang kebiasaan lama di lingkungan pejabat.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra, memilih realistis: mobil dinas mewah tak lagi jadi prioritas, efisiensi kini jadi panglima.
Harga BBM jenis non subsidi melonjak tajam. Pertamax Turbo kini berada di kisaran Rp19.400 per liter, naik sekitar Rp6.300.
Baca Juga:Kasus Dugaan Penculikan Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Menggantung, Unsur Pidana Masih DidalamiAtribut Aksi Diangkut, Amarah Diantar ke Ruang Wali Kota Tasikmalaya
Dexlite menyentuh Rp23.600, dan Pertamina Dex tembus Rp23.900—masing-masing naik Rp9.400.
Sementara itu, beberapa jenis lain relatif stagnan seperti Pertamax Green Rp12.900, Pertamax Rp12.300, hingga Pertalite Rp10.000.
Di tengah situasi itu, Diky mulai menghitung ulang ongkos gaya hidup kendaraan dinas.
“Saya sudah sampaikan ke bagian umum, ke depan lebih memilih pakai Toyota Innova Zenix yang lebih irit,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Saat ini, ia masih menggunakan Pajero hitam berbahan bakar solar.
Namun menurutnya, penggunaan harian kendaraan tersebut berpotensi membebani anggaran.
“Kalau dipakai terus, tentu akan membengkak. Sementara menambah anggaran BBM itu tidak mungkin,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Diky mengusulkan agar Pajero dinas “diistirahatkan”—bahkan tak menutup kemungkinan dilelang.
Ia memilih menggunakan kendaraan yang lebih hemat, sejalan dengan kondisi fiskal daerah.
Baca Juga:Biang Deadlock Muscab PPP Kota Tasikmalaya Semakin TerbukaLagi, Satpol PP Tertibkan Tenda dan Jemuran Aksi di Bale Kota Tasikmalaya: Konflik Masih Mandek
Langkah ini, menurutnya, bukan sekadar teknis, tapi juga soal pesan moral.
“Jangan lagi berpikir pejabat harus selalu terlihat keren. Kondisi sekarang menuntut kita menyesuaikan diri. Pejabat juga manusia,” tegasnya.
Di tengah kebijakan efisiensi, Diky ingin ada kesadaran bersama bahwa pengeluaran harus lebih bijak.
Bukan sekadar simbol empati, tapi langkah nyata menahan laju pemborosan.
“Mudah-mudahan ini bukan hanya simpati, tapi empati. Masyarakat juga sedang berhemat, pemerintah harus ikut merasakan,” tandasnya.
Di Kota Tasikmalaya, pesan itu terdengar sederhana—tapi cukup menyentil: ketika BBM naik, yang harus turun bukan hanya pedal gas, tapi juga gengsi. (rezza rizaldi)
