Qodarullah. Anak saya yang ketiga Raudhah Fajar Multazam, bulan Juni 2026 jatuh. Saat main bola di lapangan sekolahnya. Sikut kirinya patah.
Saya bawa ke RSOP. Ditangani dr Muhammad Rifki Zidny Sp. OT. Alhamdulillah tertangani dengan baik.
Dan, kembali bertemu dengan dr Iman Solichin Sp.OT, Spen. Jumat, 18 September 2026, beliau visit ke ruang anak saya dirawat.
Baca Juga:Pasca Digeledah KPK, Guru SMAN di Tasikmalaya Diberi Cuti untuk Bereskan MasalahKPK Geledah Rumah Guru di Tasikmalaya Terkait Dugaan Korupsi Penerimaan Maba Unsoed
Begitu bertemu, terlihat kaget. “Loh, Kang Dadan,” ujarnya. Sambil menghampiri. Menyalami dengan genggaman erat.
“Besok pagi bisa pulang,” katanya usai memeriksa anak saya.
Lalu berlalu keluar kamar perawatan. Eh, balik lagi. Dokter nyentrik ini dengan suara keras bertanya soal sensitif. Tentang pergantian seorang menteri.
Saya hanya tertawa saja. Tidak mau menjawabnya. Dokter Iman paham juga. Tawa kami pun pecah. Perawat yang mengiringinya saling tatap. Terlihat kebingungan.
**
Dokter Iman Solichin di mata saya, sosok dokter yang nyentrik dan unik. Dia membangun “kerajaannya” RSOP Purwokerto dan RSOP Ciamis. Tujuannya bukan lagi sebatas bisnis. Ada cita-cita besar. Membangun nilai-nilai. RSOP hanya sarana untuk terwujudnya nilai yang diyakininya. Muaranya nilai itu tindakan nyata berbuat kebaikan yang lebih luas untuk umat.
Ada prinsip dalam mengelola pelayanan di rumah sakitnya. Dari level pimpinan hingga level terbawah harus profesional dan menyenangkan.
“Saya membangun karakter karyawan. Saya yakin dengan ikut saya mereka semua hidupnya akan sejahtera. Paling penting lagi harus bahagia,” paparnya.
Organisasi, tuturnya, akan bagus kalau peningkatannya dari pimpinan tertinggi. Peningkatannya berkembang ke bawahnya otomatis akan berkembang. Manajemen yang memahami dafi puncak sampai ke bawah.
Baca Juga:Becak Listrik Pun Tersenyum!Ketika Prabowo Minta KartaNU, PCNU Kota Tasik Malah Tak Kebagian Sapa!
“Pemahaman itu dimulai dari sholat subuh. Kehidupan itu dimulai dari kehidupan subuh,” sosok sederhana itu mulai menyampaikan hal yang diyakininya.
“Saya sekarang sudah enjoy saja. Eh, ternyata kita ini hanya menjalani sebuah takdir. Berikutnya bertawakal. Takdir (kita) yang terbaik. Itu yang disebut ikhlas,” ungkapnya.
Dalam pandangan dokter Iman, ikhlas itu kita tidak diam. Proses ikhtiar itu jalan. Otak harus berpikir. Tidak mungkin kalau kita tidak pernah berpikir. Otak haus pintar. Di al qur’an juga disebutkan begitu.
