“Kalau kenaikan tarifnya Rp300, harusnya sesuai selisih itu. Kenapa kemudian platform menjadi Rp1.200 Yang Rp900 dari mana?” tanyanya.
Eros mengaku memahami apabila komisi aplikasi memang berada pada rentang yang disebutkan pihak Maxim. Namun, ia meminta perusahaan menjelaskan dasar pengenaan biaya yang dibebankan kepada konsumen tersebut.
“Yang Rp8.000 itu ada dasarnya, yaitu peraturan perhubungan. Tetapi yang Rp1.200, dia meminta uang kepada konsumen dan itu tidak diakumulasi kepada driver. Dasarnya apa?” bebernya.
Baca Juga:Mukota KADIN Kota Tasikmalaya Disoal, ALB Klaim Forum Tetap Sah atas Persetujuan JabarAMI Kritik Wakil Rakyat yang Terlalu Sibuk Pencitraan
Menurut Eros, pertanyaan tersebut perlu dijawab secara terbuka agar tidak terjadi perbedaan persepsi antara pihak aplikator dan pengemudi.
Eros menilai persoalan Turbo semestinya tidak dilepaskan dari persoalan utama pengemudi, yakni minimnya order dan kelayakan pendapatan.
Ia menyoroti status prioritas yang sebelumnya diperoleh pengemudi melalui pembelian atribut.
Menurutnya, ketika pengemudi sudah mengeluarkan biaya untuk mendapatkan status prioritas, perusahaan semestinya terlebih dahulu memastikan sistem tersebut mampu memberikan peluang penghasilan yang layak.
“Kalau orang yang sudah beli atribut dan menjadi skala prioritas, mereka seharusnya dimaksimalkan dulu. Jangan belum memenuhi kelayakan penghasilan sudah disodorkan program yang lain,” katanya.
Bagi STT, persoalan tersebut bukan semata-mata soal ada atau tidaknya program tambahan.
Yang lebih penting, menurut Eros, adalah bagaimana platform memastikan distribusi order sehingga pengemudi memiliki kesempatan memperoleh penghasilan yang layak.
Baca Juga:Nurul Awalin Resmi Daftar Ketua Partai Golkar Kota Tasikmalaya, Calon Tunggal Pegang Komando! Kendaraan Dinas TNI di Makodim 0612 Tasikmalaya Diperiksa, Utamakan Keselamatan
“Jangan fokus dengan driver. Fokus aplikasinya justru bagaimana memaksimalkan order supaya semua driver memiliki penghasilan yang layak. Kalau sudah seperti itu, saya pikir tidak perlu program-program yang lain,” jelasnya.
Eros berharap pihak aplikator dan pengemudi dapat duduk satu meja untuk membedah seluruh komponen tarif dan potongan secara terbuka. Dengan begitu, perbedaan hitungan antara versi pengemudi dan penjelasan perusahaan tidak terus menjadi bola panas yang berputar di lapangan.
Sebab, di tengah order yang disebut sedang sepi, setiap rupiah bagi pengemudi bukan sekadar angka dalam tabel aplikasi.
Ketika biaya program justru berpotensi menyedot sebagian besar pendapatan, program yang disebut sebagai pemberi prioritas itu berisiko dipertanyakan kembali: prioritas order untuk pengemudi, atau prioritas potongan untuk aplikasi?
