Pendataan tersebut pada akhirnya bukan hanya soal berapa banyak buku yang tersusun di rak. Sebab, di balik angka koleksi, kunjungan dan layanan, terdapat gambaran tentang seberapa serius sebuah daerah membangun budaya literasi.
Dan dalam konteks kebijakan anggaran, rupanya data perpustakaan juga bisa ikut menentukan seberapa tebal dukungan yang datang dari pusat.
Jadi, jangan sampai perpustakaannya ramai, bukunya ada, kegiatannya hidup, tetapi di atas kertas justru “sepi”. (rezza rizaldi)
