Kadin, Kursi Rp100 Juta dan Kartu Merah!

Kadin kota tasikmalaya
Ilustrasi AI/ChatGPT
0 Komentar

Satu pemain melompat setinggi satu meter dianggap pelanggaran. Pemain lain melompat dua meter dianggap gaya. Kalau begitu bukan pertandingan. Itu pertunjukan. Fauzan dan kubunya boleh keberatan.

SC boleh membela keputusan. KADIN Jawa Barat boleh menjelaskan dasar verifikasi.Semua sah. Justru dari perbedaan itulah demokrasi organisasi bekerja.

Tetapi jangan sampai Mukota berubah menjadi pertandingan di mana pemenang sudah diketahui, sementara peserta lain hanya diminta melengkapi adegan.

Baca Juga:Malik Mahpud dan Burung Macaw!PKL Dadaha “Diseleksi” Tim Penataan Kota Tasikmalaya! Dari 179, Hanya Sekitar 50 yang Masuk Prioritas

Sebab kursi ketua KADIN memang empuk. Tetapi jangan sampai proses menuju kursi itu membuat organisasi terasa panas.Kursi itu hanya satu. Calonnya bisa lebih dari satu.

Uangnya bisa ratusan juta. Formulirnya bisa berlembar-lembar. Aturannya bisa setebal buku. Tetapi pada akhirnya semua kembali kepada satu hal yang sangat sederhana: siapa pun yang duduk di kursi itu harus bisa mengatakan bahwa ia menang karena pertandingan yang adil.

Bukan karena lawannya sudah diberi kartu merah sebelum pertandingan. Dan bagi panitia, ada nasihat kecil dari dunia sepak bola: jangan hanya pastikan pemenangnya sah. Pastikan juga yang kalah percaya bahwa wasitnya tidak bermain untuk salah satu tim.

Sebab dalam organisasi, kursi ketua bisa dimenangkan dalam satu hari. Tetapi kepercayaan anggota bisa membutuhkan bertahun-tahun untuk mendapatkannya kembali.

Dan kalau Mukota sampai menyisakan pertanyaan tentang siapa sebenarnya wasitnya, maka setelah palu diketuk dan ketua terpilih diumumkan, pertandingan sesungguhnya mungkin justru baru dimulai.

Di luar ruang sidang. Di kepala para peserta. Dan di meja publik. Di sana tidak ada kartu merah. Yang ada hanya satu kartu: kartu tanda tanya. (red)

0 Komentar