Artinya, secara statistik Como memang masih menjadi salah satu tim dengan peluang terkecil untuk mengangkat trofi. Akan tetapi, Fabregas tidak ingin statistik menjadi batas bagi ambisi timnya.
“Yang penting adalah kami harus percaya bahwa kami bisa menang,” ujar Fabregas.
Pelatih Como itu juga memiliki pengalaman panjang di Liga Champions saat masih menjadi pemain.
Baca Juga:Como Vs RB Leipzig, Fabregas Incar Kemenangan Perdana di Liga ChampionsFans Al-Hilal Minta Simone Inzaghi Dipecat: Ditumbangkan Neom Meski Habiskan Dana Transfer Rp4 Triliun
Dari pengalaman tersebut, ia mengetahui bahwa kesalahan kecil bisa dihukum dengan sangat cepat di level tertinggi Eropa.
Karena itu, Fabregas menekankan pentingnya detail dalam permainan Como. Para pemain harus memahami lawan, menjalankan rencana pertandingan dan memberikan energi maksimal sejak awal.
RB Leipzig sendiri bukan lawan yang bisa diremehkan. Klub Jerman tersebut sudah memiliki pengalaman jauh lebih banyak di Liga Champions.
Fabregas bahkan melihat Leipzig sebagai salah satu contoh bagaimana sebuah klub dapat membangun identitas dan berkembang secara konsisten.
Menurutnya, Leipzig telah membangun budaya klub sejak awal dan memiliki gagasan sepak bola yang jelas. Hal tersebut menjadi sesuatu yang ingin diterapkan Como dalam proyek mereka.
Fabregas juga mengenal pelatih Leipzig, Martin Demichelis. Keduanya pernah berhadapan ketika masih menjadi pemain dan Fabregas mengakui kualitas Demichelis sebagai pelatih.
Meski demikian, pengalaman Leipzig tidak membuat Fabregas gentar. Ia justru meminta Como memanfaatkan momentum debut di kandang sendiri.
Baca Juga:Omari Hutchinson, Pemain Baru AC Milan Mengaku Tak Menonton Serie AMengapa Lazio Bisa Rekrut Diogo Leite untuk Gantikan Romagnoli Setelah Bursa Transfer Ditutup
Bagi Fabregas, Liga Champions juga memiliki makna pribadi. Dari seluruh trofi besar yang pernah ia kejar sepanjang kariernya, Liga Champions menjadi satu-satunya trofi yang belum pernah ia menangkan sebagai pemain.
Kini, kesempatan tersebut hadir dalam peran berbeda. Ia bukan lagi pemain yang berusaha mengangkat trofi, melainkan pelatih yang membawa Como untuk pertama kalinya merasakan atmosfer kompetisi paling elite di Eropa.
Como memang hanya memiliki peluang 0,8 persen menurut simulasi superkomputer. Tetapi angka tersebut tidak menentukan hasil pertandingan.
Fabregas tahu Como mungkin bukan favorit. Ia juga sadar Leipzig memiliki pengalaman lebih banyak.
Akan tetapi, seperti yang ia tekankan, peluang kecil tetap harus diperjuangkan sepenuhnya.
Debut Liga Champions akhirnya bukan sekadar tentang apakah Como mampu menjadi juara.
