Pola Belanja Bergeser ke Online, Mal di Tasikmalaya Adaptasi Jadi Pusat Hiburan dan Kuliner

mal di tasikmalaya
Pengunjung Mayasari Plaza memadati area foodcourt beberapa waktu lalu.
0 Komentar

Menurut Dewi, pertimbangan tersebut penting karena harga yang ditawarkan secara online tidak selalu lebih murah. Ia juga mempertimbangkan risiko barang yang diterima tidak sesuai dengan yang terlihat saat dibeli secara daring.

“Kadang harga online juga mahal, tetapi barang yang datang tidak sesuai. Kalau beli langsung, kualitasnya bisa dilihat dulu supaya tidak kecewa,” katanya.

Pilihan konsumen dalam berbelanja tersebut juga menjadi perhatian pengelola pusat perbelanjaan. Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) wilayah Tasikmalaya-Cirebon, Lucy Sosilawaty, melihat perubahan pola konsumsi masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga:Tak Sekadar Seremoni, Alfaland Group Hadirkan Pelayanan Personal di Hari Pelanggan Nasional 2026Jangan Lakukan Aktivitas Ini Saat Motor Melaju, Fokus Jadi Kunci Keselamatan Berkendara

Perubahan fungsi pusat perbelanjaan tersebut tidak terlepas dari bergesernya pola belanja konsumen ke platform daring. Kondisi itu membuat pengelola mal perlu mencari alasan lain agar masyarakat tetap berkunjung, salah satunya dengan menghadirkan aktivitas yang mengikuti kebutuhan dan tren konsumen.

“Kita pun harus mengejar kondisi seperti ini, menyeimbangi, adaptasi. Namun, bagaimanapun juga bisnis retail untuk mal tetap bagus. Selain untuk orang berbelanja, sekarang juga untuk ngopi, apalagi beberapa kita mengejar trennya,” ungkapnya.

Menurut Lucy, perhatian terhadap tren menjadi penting ketika pengelola menentukan brand yang dihadirkan di mal, terutama untuk menjangkau konsumen muda yang memiliki pola konsumsi berbeda.

“Tren anak-anak Gen Z sekarang sebenarnya yang Korea-Korean, termasuk minuman-minuman yang sedang viral. Buktinya, kita memasukkan Sour Sally, Sancha, dan Fore,” ujarnya.

Ia mengatakan pengelola pusat perbelanjaan juga perlu mengikuti perkembangan tren yang sangat dinamis. Karena itu, selain menghadirkan tenant yang sesuai dengan minat konsumen, pengelola mulai memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan berbagai brand dan aktivitas di mal agar tetap masyarakat untuk datang berkunjung.

Upaya tersebut menjadi bagian dari cara pusat perbelanjaan menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen, ketika aktivitas di mal tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kebutuhan berbelanja barang. (Fitriah Widayanti)

0 Komentar