TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kain tenun masih lekat dengan kesan sebagai produk tradisional. Di tengah perubahan selera konsumen dan pola belanja yang semakin bergeser ke ruang digital, kerajinan warisan budaya ini menghadapi tantangan untuk tetap relevan sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.
Tantangan itu juga dihadapi UMKM Tenun Sabilulungan milik Kendra di Kecamatan Sukaresik, Kabupaten Tasikmalaya. Produk tenun yang dihasilkan usaha tersebut pernah menjangkau pasar luar negeri. Namun, peluang itu belum berkembang menjadi pemasaran yang berkelanjutan.
Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Tasikmalaya, Hj Khifayati Nursetiana, melihat pengalaman Tenun Sabilulungan menjangkau pasar luar negeri sebagai bukti bahwa kain tenun Tasikmalaya memiliki daya tarik hingga ke mancanegara.
Baca Juga:Dianugerahi Gelar Kanjeng Raden Haryo dari Keraton Surakarta, Aktivis KAHMI Hendriyanto Attan Sampaikan PesanBukan Sekadar Souvenir, BPJS Ketenagakerjaan Banjar Hadirkan Pelayanan Spesial di Hari Pelanggan
“Ini pernah dibawa ke Amerika tapi tidak manjang (berkelanjutan, red) karena kita belum kuat, belum konsisten di hasilnya, dan kuantitasnya belum bisa maksimal. Ketika ada yang pesan kadang tidak ada barang,” kata Khifayati.
Di sisi pemasaran, pola yang digunakan pelaku usaha juga belum banyak berubah. Produk tenun masih mengandalkan pelanggan tetap dan rekomendasi dari konsumen ke konsumen. Sementara promosi melalui kanal digital dan marketplace belum dimanfaatkan secara optimal.
Persoalan itu berlanjut pada cara produk ditampilkan kepada calon konsumen. Sejumlah produk tenun telah dikembangkan menjadi busana seperti blazer dan kemeja, tetapi belum dilengkapi katalog yang dapat menampilkan ragam desain dan karakter produk secara utuh.
Khifayati menilai nilai kain tenun tidak hanya terletak pada produk akhirnya. Proses pembuatan yang panjang serta filosofi yang terkandung dalam setiap motif, menurut dia, menjadi bagian dari cerita yang dapat memperkuat daya tarik produk di mata konsumen.
“Kalau kita hanya berbicara kain tenun tanpa tahu proses di belakangnya, tanpa tahu apa itu filosofi dari motif-motifnya mungkin akan terkesan biasa saja,” ujarnya.
Menurutnya, proses pembuatan dan filosofi motif merupakan bagian dari nilai produk yang perlu diperkenalkan kepada konsumen. Pengetahuan mengenai cerita di balik kain tenun dinilai dapat membangun keterikatan emosional sekaligus membuka ruang bagi produk untuk menyasar pasar premium.
