UPI Kampus Tasikmalaya Dorong Pendidikan Inklusif di Kampung Adat Kuta di Ciamis

Upi kampus tasikmalaya
Tim Dosen UPI Kampus Tasikmalaya foto bersama dengan Pengurus Kampung Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis saat melakukan pengabdian kepada masyarakat dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan merata, Rabu (2/9/2026). (Istimewa)
0 Komentar

CIAMIS, RADARTASIK.ID — Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya mendorong penguatan pendidikan inklusif di kawasan masyarakat adat Kampung Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Asistensi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Masyarakat Adat Kampung Kuta Kabupaten Ciamis Tahun 2026,” Rabu (2/9/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Tim Pengabdian dari Dosen PGSD UPI Kampus Tasikmalaya Dr Elan MPd, dengan anggota sekaligus narasumber Dr Nuraly Masum Aprily MPd, Dr Risbon Sianturi, dan Qonita, M.Pd. Kegiatan juga didukung tim mahasiswa Elia Salis Azmia dan Nafiza Raihannati.

Baca Juga:Demokrat Kabupaten Tasikmalaya Gebrak Sukarame, Gelar Lomba Rakyat Semarakkan KemerdekaanSembilan Atlet Pasundan Muaythai Academy Tasikmalaya Bawa Pulang 9 Medali dari Kejurnas di Kota Bekasi

Ketua Tim Pengabdian, Dr Elan MPd mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pemahaman dan kesiapan masyarakat serta satuan pendidikan dalam memberikan layanan pendidikan yang mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik.

Menurutnya, Kampung Adat Kuta memiliki kehidupan masyarakat yang kuat dengan semangat kebersamaan. Kondisi tersebut menjadi modal sosial penting untuk membangun lingkungan pendidikan yang ramah dan terbuka bagi seluruh anak.

“Pengabdian UPI ini bagaimana bisa membangun pendidikan yang ramah bagi semua anak, melalui program asistensi yang dilaksanakan di Kampung Adat Kuta. Dengan begitu dapat diarahkan memperkuat ekosistem pendidikan inklusif melalui kolaborasi antara masyarakat, sekolah, orang tua, pemerintah, dan pemangku adat,” katanya kepada Radar, Kamis (3/9/2026).

Namun, Elan menyebutkan, berdasarkan rancangan program PkM, Kampung Kuta masih menghadapi sejumlah tantangan dalam akses pendidikan. Persoalan tersebut meliputi kondisi geografis, keterbatasan sarana dan prasarana inklusif, pemahaman masyarakat, hingga kapasitas tenaga pendidik.

“Anak-anak yang bersekolah harus menempuh perjalanan sekitar 2–5 kilometer melalui medan perbukitan yang cukup sulit,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, program PkM UPI menawarkan sejumlah langkah penguatan, di antaranya mendorong sekolah dasar terdekat menuju penyelenggaraan pendidikan inklusif, menyediakan media pembelajaran adaptif, meningkatkan kapasitas guru dan orang tua, serta memperkuat dukungan masyarakat terhadap pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus.

“Pendekatan yang digunakan tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik dan kearifan lokal masyarakat Kampung Adat Kuta. Keterlibatan tokoh adat, masyarakat, guru, orang tua, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam membangun model pendidikan inklusif yang sesuai dengan konteks masyarakat setempat,” katanya.

0 Komentar