TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Maraknya aksi geng motor yang meresahkan warga Kota Tasikmalaya mendapat sorotan dari kalangan organisasi kepemudaan.
Persoalan tersebut dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan penangkapan pelaku setelah terjadi tindak kekerasan.
Sekretaris Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kota Tasikmalaya, Deden Faiz Taptajani, S.Sos., menilai aksi kekerasan di jalanan sudah menjadi persoalan keamanan publik yang membutuhkan penanganan secara menyeluruh.
Baca Juga:Remaja 16 Tahun Meninggal Usai Bentrok Geng Motor di Tasikmalaya, Polisi Kejar Jawaban dari Hasil AutopsiKarhutla Terus Mengintai Kota Tasikmalaya! Ilalang Kering dan Keterbatasan Air Jadi Ancaman
Menurutnya, ketika masyarakat, termasuk pedagang, mulai merasa tidak aman beraktivitas di ruang publik, pemerintah dan aparat penegak hukum perlu mengevaluasi sistem pencegahan yang selama ini berjalan.
“Persoalan geng motor tidak bisa lagi dipandang sebagai fenomena kenakalan remaja yang berdiri sendiri. Ini sudah menyangkut persoalan sosial, keamanan, pendidikan dan tata kelola pemerintahan,” ujar Deden, Kamis (3/9/2026).
Ia menilai ukuran keberhasilan aparat kepolisian tidak semata-mata dilihat dari jumlah pelaku yang berhasil ditangkap setelah kejadian.
Lebih dari itu, kemampuan mendeteksi dan mencegah potensi aksi kekerasan sebelum masyarakat menjadi korban juga harus menjadi perhatian.
“Pertanyaannya bukan hanya berapa pelaku yang sudah ditangkap. Tetapi mengapa aksi tersebut bisa terjadi, di mana titik lemah sistem deteksi dini dan bagaimana pola pergerakan kelompok tersebut bisa terbentuk,” terangnya.
Deden mendorong Polres Tasikmalaya Kota melakukan evaluasi terhadap pola patroli, khususnya di wilayah dan waktu yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Menurutnya, patroli jangan hanya dimaknai sebagai aktivitas rutin berupa kehadiran kendaraan polisi di jalan.
Baca Juga:Tak Sekadar Menjalani Hukuman, Warga Binaan Lapas Tasikmalaya Dapat Layanan Pendidikan dan Kesehatan Bayi Dibuang di Rumah Kosong Tasikmalaya, Polisi Kejar Jejak Pelaku
Patroli harus berbasis pemetaan kerawanan, analisis waktu kejadian, titik kumpul hingga informasi yang disampaikan masyarakat.
“Polres Tasikmalaya Kota harus menggeser paradigma dari reaktif menjadi preventif. Jangan sampai intervensi baru terlihat setelah masyarakat menjadi korban,” tegasnya.
Ia juga mendorong kepolisian memperkuat deteksi dini terhadap aktivitas kelompok yang berpotensi melakukan kekerasan jalanan.
Koordinasi dengan sekolah, pemerintah daerah, RT/RW, tokoh masyarakat serta organisasi kepemudaan dinilai perlu diperkuat.
Di sisi lain, Deden mengingatkan persoalan geng motor tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada kepolisian.
