GIBEI Unsil Tasikmalaya Kasih Paham Mahasiswa Soal Investasi di Pasar Modal

Investasi pasar modal, mahasiswa unsil tasikmalaya
Penyelenggara dan peserta usai pelaksanaan Pengantar Sekolah Pasar Modal di Unsil Tasikmalaya, Jumat (28/8/2026). (Foto: Istimewa)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (GIBEI) Universitas Siliwangi (UNSIL) mendorong generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk tidak sekadar menjadi investor di pasar modal, tetapi juga memiliki pemahaman yang baik mengenai investasi, risiko, dan pengelolaan keuangan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengantar Sekolah Pasar Modal yang digelar di UNSIL, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi GIBEI UNSIL, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tasikmalaya, Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk., Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan, serta Program Studi D4 Perbankan dan Keuangan Digital UNSIL.

Baca Juga:Maulid yang Menunggu Wali Kota!Audiensi di DPRD Kota Tasikmalaya, Vendor Bongkar Boroknya Parkir

Kegiatan diikuti mahasiswa S1 Ekonomi Pembangunan, khususnya peserta mata kuliah Pasar Modal, mahasiswa D4 Perbankan dan Keuangan Digital, serta didukung Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) UNSIL.

Direktur GIBEI UNSIL sekaligus Ketua Jurusan Manajemen UNSIL, Lucky Radi Rinandiyana, mengatakan edukasi pasar modal di lingkungan kampus harus diarahkan pada peningkatan kualitas pemahaman mahasiswa, bukan hanya mengejar pertambahan jumlah investor muda.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya mahasiswa yang memiliki rekening investasi, tetapi mahasiswa yang paham mengapa mereka berinvestasi, apa risikonya, dan bagaimana mengambil keputusan secara bertanggung jawab,” ujar Lucky.

Menurutnya, mahasiswa perlu mengubah pola pikir dalam berinvestasi. Keputusan investasi tidak seharusnya hanya didasarkan pada tren, ajakan teman, atau keinginan memperoleh keuntungan secara cepat.

“Paradigmanya perlu bergeser, dari ‘ikut investasi karena sedang tren’ menjadi ‘berinvestasi karena memahami’. Mahasiswa harus belajar mengenali profil risikonya, memahami instrumen yang dipilih, serta mampu membedakan informasi yang valid dengan sekadar ajakan atau spekulasi di media sosial,” tambahnya.

OJK Ingatkan Ancaman Finansial Digital

Asisten Manajer OJK Tasikmalaya, Nur Izmi Aprilianti, dalam kegiatan tersebut mengingatkan mahasiswa agar lebih waspada terhadap berbagai ancaman keuangan di era digital.

Ancaman tersebut antara lain judi online berkedok permainan, pinjaman online ilegal, perilaku konsumtif, hingga tekanan sosial akibat tren digital seperti FOMO, FOPO, dan YOLO.

Baca Juga:Tender Kursi Ketua GAPENSIGUS KIKIN, DARI TEBUIRENG KE PBNU

Mahasiswa juga didorong menerapkan formula pengelolaan keuangan 10-20-30-40, yakni 10 persen untuk kebaikan atau kegiatan sosial, 20 persen untuk tabungan dan dana darurat, 30 persen untuk cicilan, serta 40 persen untuk kebutuhan hidup.

0 Komentar