TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Langkah kontroversial penutupan Jalan Dadaha banyak dikeluhkan karena mempersempit ruang akses pengendara yang melintas di kawasan tersebut. Namun bagi sebagian pegiat olahraga, lalu lintas bukan hal prioritas karena kenyamanan dan keamanan pengunjung serta pedagang lebih utama.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Harian KONI Kota Tasikmalaya Hasan Basri. Menurutnya, selama bertahun-tahun kawasan Dadaha menjalankan dua fungsi yang saling berbenturan.
Di satu sisi Dadaha menjadi ruang publik untuk berolahraga, berlatih, berkumpulnya komunitas hingga aktivitas ekonomi masyarakat. Di sisi lain kawasan itu juga menjadi jalur perlintasan mobilitas warga.
Baca Juga:DPP CBN Mendesak Pemkot Tasikmalaya Evaluasi Pajak MBLBKondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi Informasi
“Dadaha adalah destinasi, bukan sekadar jalur lintasan,” ujar pria yang juga Ketua Partai Gelora Kota Tasikmalaya sekaligus tim sukses Viman-Diky di Pilkada itu.
Pegiat olahraga yang juga Ketua Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kota Tasikmalaya ini menilai lalu lalang pengendara yang melintas di tengah kawasan olahraga selama ini turut memunculkan persoalan. Pejalan kaki harus berbagi ruang dengan kendaraan, sementara aktivitas olahraga dan interaksi masyarakat harus berdampingan dengan kebisingan serta asap kendaraan.
Maka dari itu dia menilai penutupan jalur utama tersebut membuat kawasan Dadaha menjadi lebih utuh. Di mana fasilitas olahraga
Lapangan, gedung olahraga, jalur pedestrian dan ruang terbuka hijau dapat terhubung sebagai satu kawasan tanpa terganggu lalu lintas kendaraan. Sehingga lebih nyaman dan aman bagi pengunjung.
Dengan meningkatnya aktivitas warga, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan juga berpotensi mendapatkan manfaat ekonomi. Sebagaimana diketahui, selain warung dan toko, kawasan Dadaha menjadi salah satu area menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL).
“Orang yang tinggal lebih lama di sebuah kawasan memiliki peluang lebih besar untuk berbelanja. Karena itu, UMKM di sekitar Dadaha semestinya menjadi salah satu pihak yang mendapatkan manfaat dari penataan ini,” katanya.
Soal aksesibilitas warga, menurutnya pemerintah harus menyiapkan jalur pengganti secara matang. Dari mulai infrastruktur yang baik, sarana penunjang seperti penunjuk arah termasuk kantong parkir.
Baca Juga:Jenggot Putih Yanto Oce!Kuatkan UMKM Rajapolah Tasikmalaya, Dorong Produk Lokal Naik Kelas Kuasai Pasar Digital
Menurut Hasan, penataan Dadaha pada akhirnya bukan hanya persoalan lalu lintas, melainkan mengenai perubahan prioritas dalam pengelolaan ruang kota. Karena menurutnya keberhasilan sebuah kota tidak diukur dari seberapa lancar lalu lintasnya, tapi juga seberapa nyaman masyarakat berjalan kaki, berolahraga, berinteraksi dan menggunakan ruang publik.
