PANGANDARAN, RADARTASIK.ID -Di bulan Agustus 2026 yang masih berjalan ini, sedikitnya tercatat ada 16 kejadian kebakaran di Kabupaten Pangandaran. Khusus kebakaran lahan, perilaku masyarakat punya andil besar sebagai pemicu kejadian.
Kabid Damkar Satpol PP Kabupaten Pangandaran Ade Soed mengatakan, dari 16 kasus kebakaran tersebut, sebagian besar merupakan kebakaran lahan dan hutan. “Sehari itu sampai ada tiga kejadian kebakaran,” ucapnya kepada Radar Kamis (27/8/2026).
Menurut dia, dari 16 kejadian itu, sebagian merupakan kejadian kebakaran bangunan atau rumah, jadi tidak semua kebakaran lahan atau hutan. “Itu sampai tanggal 23, yang sampai hari ini belum kerekap,” jelasnya.
Baca Juga:Kondusivitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi, Kadin Kota Tasikmalaya Minta Masyarakat Bijak Menyikapi InformasiJenggot Putih Yanto Oce!
Kata dia, kebakaran lahan yang terjadi di Kabupaten Pangandaran, biasanya bersumber dari api yang dinyalakan oleh warga. “Biasalah ada yang dudurukan, karena sekarang kemarau, banyak daun dan rumput kering, api jadi cepat menjalar,” terangnya.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar selalu berhati-hati dan tidak sembarangan membakar sesuatu di dekat lahan atau hutan.
“Sejauh ini banyak yang tertangani saat ada kejadian, walaupun mencari sumber air untuk memadamkan api cukup sulit,” terangnya.
Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran Dodo Kusnadi mengatakan, kebakaran lahan terbesar terjadi di Dusun Sambong, Desa Karangkamulya, Kecamatan Padaherang, pada 9 Agustus 2026.
Dalam kejadian tersebut, sekitar tiga hektare lahan milik warga hangus terbakar. Kebakaran lahan berikutnya melanda Desa Selasari, Kecamatan Parigi, dengan luas area yang terdampak mencapai lebih dari satu hektare. “Untuk di Desa Selasari, kebakaran terjadi sebanyak dua kali. Lalu kebakaran lahan di Desa Cibenda, Parigi,” katanya.
Dia menjelaskan, kebakaran lahan umumnya berpotensi terpicu dari aktivitas warga yang membakar sampah, rumput, maupun daun kering di sekitar lahan. Risiko tersebut makin meningkat seiring dengan masuknya wilayah Pangandaran ke musim kemarau. Cuaca kering yang disertai tiupan angin kencang membuat kobaran api dengan cepat merambat ke vegetasi di sekitarnya.(Deni Nurdiansah)
