Risiko lain berasal dari potensi kenaikan biaya akibat penerapan HPM maupun perubahan tarif royalti oleh Kementerian ESDM. Likuiditas juga perlu diperhatikan.
Ketentuan devisa hasil ekspor yang berlaku sejak 1 Juni 2026 mewajibkan sebagian hasil ekspor ditempatkan di perbankan Himbara dalam periode tertentu. Menurut catatan earnings call, situasi tersebut membuat TINS meminta persetujuan pemegang saham terkait tambahan pendanaan meskipun perusahaan memiliki posisi kas bersih sekitar Rp 3,4 triliun.
Katalis lain yang masih membutuhkan waktu adalah integrasi aset hasil sitaan.
Baca Juga:Motor Jarang Dipakai? Jangan Langsung Ditinggal, Ini 5 Cara agar Tetap PrimaRaih 444 Suara, Tantan Sulthon Bukhawan Pimpin PWI Jabar 2026–2031, Oland Sibarani Ketua DK
Manajemen menjelaskan bahwa proses memasukkan aset tersebut ke dalam laporan keuangan TINS masih berada dalam tahap harmonisasi bersama Kementerian Keuangan.
Proses administrasinya tidak sederhana.
Barang rampasan negara terlebih dahulu harus dialihkan statusnya menjadi Barang Milik Negara. Setelah itu, aset tersebut perlu dimasukkan sebagai Penyertaan Modal Negara kepada MIND ID sebelum akhirnya dapat diturunkan kepada TINS.
Masalahnya, aturan yang menjadi dasar penyertaan modal tersebut masih dalam proses penyusunan, revisi, dan harmonisasi.
Karena itu, investor sebaiknya belum memasukkan potensi aset sitaan sebagai katalis jangka pendek hingga terdapat kepastian regulasi dan mekanisme transfer aset.
Paruh kedua 2026 akan menjadi periode penting bagi PT Timah.
Dalam jangka pendek, perusahaan masih menghadapi hambatan volume akibat keterbatasan pasokan bijih. Namun tekanan tersebut diimbangi oleh outlook biaya yang lebih baik, laba semester pertama yang telah jauh melampaui target internal, serta potensi revisi naik terhadap guidance perusahaan.
Jika laba bersih 2026 mampu mendekati atau bahkan melampaui konsensus Rp 4,5 triliun, perhatian pasar kemungkinan tidak lagi hanya terpusat pada pertumbuhan laba.
Kenaikan payout ratio, tambahan RKAB, empat kapal isap produksi baru, dan penurunan biaya dapat menjadi katalis positif. Sebaliknya, pelemahan harga timah, kebijakan HPM, kenaikan royalti, serta perubahan regulasi devisa ekspor tetap menjadi variabel yang perlu diawasi.
Baca Juga:SIDO Pangkas Target Pendapatan 2026, Destocking Rampung: Akankah Kinerja Pulih di Semester II?Orasi Kewirausahaan UBTH 2026: Saatnya Generasi Muda Jadi Inovator, Investor, dan Pembuka Lapangan Kerja
Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. (snd/stb)
