SIDO Pangkas Target Pendapatan 2026, Destocking Rampung: Akankah Kinerja Pulih di Semester II?

SIDO
Ilustrasi. (Hasil AI/ChatGPT)
0 Komentar

RADARTASIK.ID – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menghadapi semester pertama 2026 yang menantang. Pendapatan tertekan akibat normalisasi inventori di jalur distribusi, laba bersih turun tajam, dan manajemen akhirnya memangkas target pertumbuhan pendapatan tahun ini. Namun, di balik tekanan tersebut, ada satu sinyal yang mulai memberi harapan: proses destocking disebut telah selesai.

Dilansir Stockbit, dalam earnings call kuartal II 2026 yang digelar Jumat, 7 Agustus 2026, manajemen Sido Muncul memaparkan bahwa pelemahan kinerja sepanjang enam bulan pertama tahun ini lebih banyak dipengaruhi koreksi stok di tingkat distributor daripada penurunan permintaan konsumen.

Kondisi ini menjadi penting bagi investor. Pasalnya, jika inventori distributor memang telah kembali normal, semester II 2026 akan menjadi periode pembuktian apakah penjualan SIDO bisa kembali mengikuti permintaan riil konsumen.

Baca Juga:Orasi Kewirausahaan UBTH 2026: Saatnya Generasi Muda Jadi Inovator, Investor, dan Pembuka Lapangan KerjaDEWA Siap Tancap Gas! Kontrak Sebuku Sejaka Coal Buka Peluang Kinerja Makin Cerah

Dalam catatan Investment Analyst Stockbit, Amara Beatrice, sepanjang semester I 2026, laba bersih SIDO tercatat turun sekitar 44 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY). Pelemahan tersebut berlangsung bersamaan dengan penurunan pendapatan sekitar 20 persen YoY.

Tekanan masih terlihat pada kuartal II 2026. Pendapatan SIDO pada periode tersebut turun sekitar 21 persen YoY.

Salah satu faktor utama yang membebani kinerja adalah perbedaan cukup besar antara sell-in, yakni penjualan perusahaan ke jalur distribusi, dengan sell-out atau penjualan produk dari jaringan distribusi kepada konsumen.

Sell-in SIDO pada kuartal II 2026 turun sekitar 32 persen YoY, sementara secara kumulatif sepanjang semester I 2026 mengalami kontraksi sekitar 30 persen YoY.

Menariknya, kondisi berbeda terjadi pada sell-out. Penjualan kepada konsumen justru tumbuh sekitar 8 persen YoY pada kuartal II, sedangkan sepanjang semester pertama relatif stabil.

Perbedaan tersebut memperkuat indikasi bahwa penurunan pendapatan SIDO bukan sepenuhnya disebabkan konsumen meninggalkan produk perusahaan, melainkan akibat distributor mengurangi pembelian untuk menormalkan stok yang sebelumnya terlalu tinggi.

Indikasi permintaan konsumen yang masih relatif terjaga juga terlihat pada produk utama Sido Muncul, Tolak Angin.

Baca Juga:Penjualan Ritel Juli 2026 Diproyeksi Tumbuh 0,9 Persen, Akhiri Tren Kontraksi 3 BulanKlaim BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Online, Peserta Tasikmalaya Diminta Manfaatkan Lapak Asik

Pangsa pasar Tolak Angin disebut masih bertahan di sekitar 71 persen. Posisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap penjualan perusahaan belum diikuti perubahan signifikan pada daya saing merek utamanya.

0 Komentar